Senin, 30 November 2020 | Humas.Bandung.go.id Tentang Kami ‧ Kontak Kami
Layanan Siaran Pers


logo humas bandung
SIARAN PERS
Tanggal    30 Januari 2020 Disiapkan oleh    Humas Kota Bandung
UNTUK SIARAN CEPAT

barkop

Pemkot Bandung Mulai Bangun Kolam Retensi Jalan Bima

PEMERINTAH Kota (Pemkot) Bandung mulai membangun kolam retensi di Jalan Bima. Kolam ini diharapkan mampu menjadi tempat parkir air untuk menahan luapan dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Citepus.

Wali Kota Bandung, Oded M. Danial menyatakan kolam retensi ini menjadi salah satu upaya Pemkot Bandung untuk mengatasi masalah banjir. Lebih spesifik lagi, kolam retensi Jalan Bima ini mampu meredam aliran air yang kerap menggenangi wilayah Kecamatan Cicendo dan Kecamatan Astanaanyar.

“Alhamdulillah hari ini kita akan membangun kolam retensi di DAS Sungai Citepus ini yang kedua. Kemarin sudah di Sirnaraga. Saya berharap kolam retensi di DAS Citepus ini bisa mengurangi banjir di hilir,” kata Oded di Jalan Bima, Kamis (30/1/2020).

Sebelumnya pada Januari 2019 silam, Oded meresmikan kolam retensi Sirnaraga yang dibuat di atas lahan 1.972 meter persegi, tepat di samping aliran Sungai Citepus dengan daya tampung sekitar 3.000 meterkubik. Kali ini, lahan seluas 2.500 meter persegi di Jalan Bima ini dipersiapkan untuk membuat kolam retensi dengan kedalaman 3 meter yang diprediksi mampu menampung lebih dari 7.000 meter kubik.

Selain kolam retensi Sirnaraga, Oded juga membangun kawasan Wet Land di Kecamatan Cibiru dan Kolam Retensi di Jalan SOR GBLA, Kecamatan Gedebage.

Ia menegaskan, kolam retensi menjadi solusi paling memungkinkan untuk mengurangi genangan air sungai melimpas ke jalan dan pemukiman.

“Kalau dulu di Pagarsih sebagai wilayah yang terkena aliran Citepus ini banjirnya sangat besar setelah ada di Sirnaraga sudah mulai berkurang. Mudah-mudahan dengan bertambah di sini (Jalan Bima) akan semakin berkurang. Karena para pakar menyampaikan kepada saya bahwa sesungguhnya salah satu cara mengurangi banjir dengan banyak membuat kolam retensi,” paparnya.

Oded menuturkan, pembangunan kolam retensi di Jalan Bima ini menjadi hasil kolaborasi bersama Istana Grup. Untuk itu, Ia mengimbau kepada para perusahaan swasta, BUMD ataupun BUMN yang ada di Kota Bandung untuk bergandengan tangan ikut mendorong pembangunan dan pengentasan masalah perkotaan, tanpa terkecuali menangani masalah banjir.

“Jadi memang persoalan pembangunan Kota Bandung memang tidak hanya bisa mengandalkan APBD semata. Saya mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada pihak swasta yang ada di Kota Bandung yang bersedia berkolaborasi membangun Kota Bandung. Khususnya dalam pembangunan kolam retensi,” terangnya.

Tak cukup dengan kolam retensi, Pemkot Bandung juga akan menggiatkan program pembuatan drumpori di setiap wilayah Kota Bandung. 

Oded ingin pembuatan drumpori ini bisa masif hingga ke tingkat RW, sebagai upaya untuk mngelola air dengan menyerapkannya ke dalam tanah.

“Sudah kita canangkan drumpori. Akan kita laksanakan di 2020 ini. Ada di program LPM, di program PIPPK di RW terus kita laksanakan. Ada juga program pada Dinas Pekerjaan Umun. Dengan adanya drumpori di setiap wilayah bisa menjadi tandon air dan bisa menghambat air ke hilir,” ungkapnya.

Di samping itu, Oded juga tak lupa mengajak para masyarakat untuk menerapkan konsep gerakan Kurangi Pisahkan Manfaatkan (Kang Pisman) dalam pengelolaan sampah kesehariaannya. Sehingga, problematika sampah yang bisa tuntas di hulu secara mandiri oleh masyarakat bisa berkontribusi mencegah masalah banjir akibat luapan air sungai.

“Mari bersama kita ubah mindsetnya bahwa sampah ini bisa dikelola. TPS ini kita ubah maknanya menjadi Tempat Pengelolaan Sampah bukan lagi Tempat Pembuangan Sementara. Dengan program Kang Pisman dan turunannya mudah-mudhan bisa menyelesaikan persoalan sampah dari sumbernya,” dia menjelaskan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Bandung, Didi Riswandi bertekad, kolam retensi di Jalan Bima ini tuntas dalam dua bulan. Kali ini, kolam dirancang dengan konsep eco-urban, yakni lingkungan natural yang ramah lingkungan namun tetap cocok di tengah suasana perkotaan.

“Mudah-mudahan tidak ada gangguan dua bulan. Nanti akan menyatu dengan sabuk hijau, jadi ada pohon-pohonnya. Kalau ini lebih alamiah. Jadi lebih mirip wetland tapi karena ini urban jadi mungkin semacam eco-urban,” jelas Didi.

 

Kabag Humas Setda Kota Bandung

Sony Teguh Prasatya

 


Kata kunci:

BAGIKAN

BERI KOMENTAR