Selasa, 4 Agustus 2020 | Humas.Bandung.go.id Tentang Kami ‧ Kontak Kami
Berita
#BandungLawanCovid19

Si Kopit Datang, Kerumunan pun Langsung Bubar

Kamis, 7 Mei 2020

Si Kopit Datang, Kerumunan pun Langsung Bubar
andryan/Humas.Bandung.go.id

HumasBandung - Tegas namun tetap sopan. Begitu cara "Si Kopit" meminta remaja dan anak-anak di RW 11 Kelurahan Cikutra, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung untuk membubarkan diri dari kerumunan. Ya, di masa pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) ini, masyarakat dilarang untuk berkerumun untuk menghindari menyebarnya virus corona.

"Si Kopit" adalah robot yang diciptakan para pemuda di RW 11 untuk mengedukasi dan menyosialisasikan upaya-upaya pencegahan Covid-19. Dua orang anggota Karang Taruna setempat, yaitu Rifky dan Yasir secara bergantian bertugas menjadi Si Kopit.

Si Kopit berpatroli dua kali dalam sepekan untuk membubarkan kerumunan warga serta melakukan edukasi dan sosialisasi pencegahan Covid-19. Saat berpatroli, Si Kopit menyusuri gang-gang di RW 11 yang berada di seputaran Jln. Cikutra dan pasar Cikutra.

"Kalau diimbau oleh linmas sudah biasa, nah sekarang kita manfaatkan robot ini sebagai media pengimbau kepada warga," ujar Ketua RW 11, Ninuk Gagan kepada humas.bandung.go.id, Kamis (7/5/2020).

Ninuk mengungkapkan, awalnya kostum robot tersebut tidak dikhususkan untuk mengimbau kepada warga tetapi digunakan saat perlombaan Agustusan memperingati Hari Kemerdekaan RI. "Awalnya itu kita siapakan untuk Agustusan, tapi ketika ada pendemi ini ya kita manfaatkan," tuturnya.

Ninuk mengungkapkan, sebelum pandemi kostum robot tersebut digunakan untuk patroli Linmas kerja sama dengan Karang Taruna di sore hari. "Sebelum pandemi, linmas bersama Karang Taruna suka patroli bareng robot," bebernya.

Tak hanya itu, kostum robot ini pun sudah pernah digunakan dalam pembuatan film lokal berjudul "Hope" karya komunitas film Sekewood dengan Pribadi Bilingual Boarding School Bandung.

"Dia (robot) juga pernah main film, jadi kalau saat ini dikeluarkan untuk imbauan, sudah tidak canggung," ujar Ninuk.

Mengenai biaya pembuatannya, Nunik menyebut mencapai Rp2,5 juta. "Robot ini digerakkan oleh Rifky atau Yasir, karena mereka pas badannya itu. Jadi leluasan ketika di dalam pas menggerakkannya," kata Ninuk.* andryan - humas.bandung.go.id



BAGIKAN

BERI KOMENTAR