Senin, 13 Juli 2020 | Humas.Bandung.go.id Tentang Kami ‧ Kontak Kami
Artikel
Syiar Ramadan

Ukhuwah

Jumat, 22 Mei 2020

Penulis: H. Oded M. Danial

HumasBandung - Pandemi covid-19 ternyata membawa dampak positif bagi kehidupan manusia, setidaknya menoreh hati nurani sebagian orang untuk peduli kepada orang lain. Jika sebelumnya ada stigma terhadap pengidap dan tenaga medis yang terpapar, dalam perkembangannya kemudian justru menunjukkan peningkatan upaya-upaya perlindungan.

Sejumlah institusi, komunitas atau pribadi bermunculan untuk berbagi pangan, uang, Alat Perlindungan Diri (APD), tempat tinggal sementara bagi tenaga medis, serta bentuk kepedulian lain yang mengharukan.

Solidaritas sosial tumbuh dan berkembang secara universal, se-bagai bentuk empati memerangi pandemi corona yang didasarkan kesamaan tujuan, kesetiakawanan dan rasa sepenanggungan.

Begitu pula ukhuwah atau semangat persaudaraan Islam juga meningkat dengan mengalirnya berbagai bantuan bernafas keimanan. Meski istilah solidaritas dan ukhuwah hampir sama, namun ukhuwah lebih berorientasi kepada pemeliharaan persaudaraan karena berdasar kepada sabda Rasulullah SAW, ‘’Tidak sempurna iman seseorang, sehingga ia mencitai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri,’’ (HR. Bukhari, Muslim dan At-Tirmidzi).

Semangat persaudaraan tidak hanya diwujudkan dalam bantuan fisik material melalui instrumen zakat, infak, dan sedekah, tetapi juga memelihara persatuan umat, karena konsep ukhuwah juga mengacu kepada perintah Allah dalam Alquran surat Al-Hujurat ayat 10, ‘’Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu da-maikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”.

Semangat ukhuwah disebut terpelihara karena hampir semua umat muslim patuh pada anjuran mui untuk sementara melaksanakan ibadah salat di rumah demi mengurangi kerumunan di dalam masjid. Begitu pula tata cara ibadah lain dalam suasana pandemi, masih dalam satu pemahaman dan tidak terjadi perbedaan pendapat yang berarti.

Persatuan dan kesatuan bisa disebut inti dari ukhuwah, sehingga interaksi antarpihak bukan sekadar membantu dan dibantu tetapi untuk saling menguatkan. Rasulullah SAW bersabda, "Orang mukmin itu bagaikan satu jasad, atau bagaikan bangunan yang saling mengukuhkan,’’ (HR Bukhari dan Muslim).

Begitu pula bantuan yang disampaikan harus berorientasi kepada kebaikan dan ketakwaan, karena ada peringatan dalam surat Al-Maidah ayat 2, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”.

Ukhuwah menghendaki terwujudnya persaudaraan hakiki, yang tidak bisa diukur dengan materi, karena menyangkut kehidupan di akhirat kelak. Ukhuwah juga tidak sekedar berbagi barang yang dibutuhkan tetapi berbagi kasih sayang menuju jalan allah swt.
Oleh karena itu, reaksi umat muslim terhadap orang-orang yang butuh bantuan, tidak selamanya diwujudkan dalam bentuk pemberian materi karena pada hakikatnya adalah berbuat kebajikan dan menunaikan kewajiban sesuai perintah Allah SWT.

Mudah-mudahan persaudaraan umat menjadi fondasi persatuan bangsa, terutama untuk saling mengokohkan bangunan Indonesia dalam menuntaskan berbagai persoalan kehidupan.

Sakit nian disengat lebah
Sengatnya masih melekat
Suburkan semangat ukhuwah
Agar kita semakin kuat

Jangan ngebut berkendaraan
Jaga pula keselamatan
Perkuat persaudaraan
Juga pelihara keimanan.***



BAGIKAN

BERI KOMENTAR