Rabu, 22 September 2021 | Humas.Bandung.go.id Tentang Kami ‧ Kontak Kami
Artikel
Syiar Ramadan

Patuh Kepada Pimpinan

Senin, 18 Mei 2020

Penulis: H. Oded M. Danial

HumasBandung - Kepemimpinan dalam islam dikenal dengan istilah imamah, sedangkan pemimpin disebut imam. Pemimpin juga bukan hanya berarti seseorang yang memimpin suatu lembaga formal, tetapi juga setiap orang yang memimpin diri sendiri sebagaimana dijelaskan sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar R.A. dari Nabi SAW bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggung jawaban perihal rakyat yang dipimpinnya; seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya; seorang istri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggung jawabnya; seorang pembantu rumah tangga adalah bertugas memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya atas tanggungjawabnya; dan kamu sekalian pemimpin yang akan ditanya atas pertanggung-jawabannya (H.R. Muslim).

Dalam kehidupan sosial dikenal pemimpin formal, yakni pemimpin yang dipilih melalui suara terbanyak seperti wali kota dan gubernur, serta pemimpin informal yang ditunjuk atau diangkat karena kapasitas keilmuan, kredibilitas, dan integritas pada profesi seperti ulama.

Alquran menjelaskan kriteria manusia atau pemimpin yang baik adalah, orang yang kuat dan amanah (QS. Al-qashas: 26), yang diperjelas dengan pujian penguasa Mesir kepada Nabi Yusuf A.S., “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi (kuat secara posisi) lagi dipercayai pada sisi kami”. (QS. Yusuf: 54).

Pemimpin dianggap sebagai orang kuat, berilmu, amanah, dan bertanggungjawab kepada orang-orang yang dipimpinnya, maka tidak ada pilihan lain bagi orang-orang yang dipimpinnya kecuali mentaati segala yang diperintahkan atau dianjurkannya. Alquran menjelaskan , "Hai orang-orang yang beriman, taatilah allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu." (QS. An-nisaa: 59)

Dalam ayat ini Allah menjadikan ketaatan kepada pemimpin pada urutan ketiga setelah ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Pemimpin di sini tidaklah datang dengan lafadz perintah "taatilah" karena ketaatan kepada pemimpin merupakan ikutan dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Oleh karena itu, apabila seorang pemimpin memerintahkan untuk berbuat maksiat, maka tidak ada lagi kewajiban mendengar dan taat kepada mereka. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada kewajiban taat dalam rangka bermaksiat (kepada allah). Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma'ruf (bukan maksiat)." (H.R. Bukhari No. 7257).

Di tengah pandemi Covid-19, jika pemimpin-pemimpin kita menganjurkan penjarangan jarak (physical distancing) saat berinteraksi dengan sesama, melarang sementara beribadah di masjid guna menghindari kerumunan, bepergian mengunjungi keluarga di daerah lain atau mudik, dan mengisolasi diri bagi orang-orang yang dianggap berpotensi terpapar corona, maka tidak ada alasan untuk menolaknya.

Perintah-perintah tersebut didasarkan pada tanggung jawab dunia dan akhirat para pemimpin, terutama untuk memutus mata rantai penyebaran virus, menghentikan angka pertumbuhan warga yang terpapar, sekaligus memudahkan petugas medis mengobati pasien positif Covid-19.

Keputusan para pemimpin didasarkan kepada perhitungan rasional, keilmuan, pertimbangan kemaslahatan umat, dan sama sekali tidak bersentuhan dengan maksiat, sehingga sudah seharusnya dipatuhi dalam rangka ibadah karena bersentuhan dengan kebaikan semua pihak.

Maka kepatuhan umat kepada instruksi para pemimpin dalam menangani corona, insya allah akan bernilai amal kebajikan, yang akan memberi dampak terhadap upaya-upaya penanggulangan pandemi Covid-19.

Semoga warga Kota Bandung menjadi teladan, yang patuh kepada perintah Allah dan Rasul-Nya, serta anjuran ulama dan umaro yang sejalan dengan ajaran islam. Mudah-mudahan pula keteladanan itu menjadi contoh yang baik bagi keluarga dan orang-orang sekitar serta dapat mempertanggung-jawabkan kepemimpinan pribadinya kepada Allah SWT di hari akhir.

Naik pedati takut masuk angin
Ke tujuan butuh waktu lama
Ikuti anjuran pemimpin
Demi kepentingan bersama

Bawa makanan untuk bekal
Bekalnya nasi dan ikan tenggiri
Kepada Allah kita bertawakkal
Hanya kepada-Nyaberserah diri.***



BAGIKAN

BERI KOMENTAR