Senin, 13 Juli 2020 | Humas.Bandung.go.id Tentang Kami ‧ Kontak Kami
Artikel
Syiar Ramadan

Husnudzon

Sabtu, 23 Mei 2020

Penulis: H. Oded M. Danial

HumasBandung - Ketika seseorang menghadapi suatu kejadian yang kurang menyenangkan, terkadang keluar kata-kata buruk atau keluhan dan menyalahkan orang lain. Misalnya saat dagangan kurang laku, maka disalahkanlah petugas yang mela-rang dagangannya menjorok ke badan jalan. Atau ketika nilai pelajaran kurang tinggi maka yang disalahkan adalah guru yang tidak obyektif menilai atau teman yang mengganggu.

Begitu pula ketika tetangga bisa membeli kendaraan baru, maka yang keluar dari mulutnya adalah dugaan bahwa uang yang digunakan untuk membeli barang tersebut berasal dari uang haram.

Pada suasana pandemi covid-19 ini, kita juga terkadang bereaksi negatif ketika ada tetangga atau orang-orang terdekat terlihat batuk, sesak nafas, dan demam. Keluar bisik-bisik "jangan-jangan orang ini terjangkit virus corona" dan mengingatkan orang lainnya untuk tidak mendekat sekaligus memaksanya mengisolasi diri.

Disadari atau tidak, kebiasaan berprasangka buruk mungkin telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Boleh jadi kita pernah menetapkan suatu perkara tanpa melakukan konfirmasi atau meneliti dan men-cari kebenaran atas kejadian tadi (tabayyun).

Padahal, Allah SWT melarang untuk berprasangka buruk sebagai-mana dijelaskan dalam Alquran Surat Al-Hujurat ayat 12, "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepada-nya. Dan bertakwalah kepada aAlah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang".

Mengacu kepada keterangan tadi, ternyata larangan berprasangka buruk juga paralel dengan larangan mencari-cari kesalahan atau mempergunjingkan orang lain. Seperti pada contoh-contoh di atas, biasanya orang lebih suka memper-panjang dengan serangkaian cerita negatif orang yang dipergunjing-kan: dipoles, ditambah, dan dikurang supaya lebih menarik.

Berprasangka buruk juga terkait dengan posisi diri yang merasa lebih baik, lebih hebat, dan lebih pintar dibanding orang lain, sehingga hal ini diisyaratkan surat Al-Hujurat ayat 49, "Wahai orang-orang beriman, janganlah segolongan laki-laki merendahkan segolongan lain, adalah mungkin segolongan lain itu lebih baik dibanding diri mereka, serta jangan segolongan perempuan terhadap segolongan lain, adalah mungkin bahwa sego-longan lain itu lebih baik dibanding perempuan-perempuan tersebut”.

Peringatan Allah ini menjadi isyarat bahwa kita harus melihat berbagai persoalan secara obyektif atau apa adanya, terutama sebe-lum memperoleh data dan informasi yang valid. Kalaupun memang persoalan itu negatif, maka tidak perlu diperluas lagi karena sudah masuk dalam kategori ghibah.

Rasulullah SAW bersabda, "Apakah kalian mengetahui apa itu ghibah? Mereka (para sahabat) menjawab: Allah dan Rasulnya lebih mengetahui. Rasulullah SAW melanjutkan: Engkau menyebut (membicarakan) saudaramu tentang sesuatu yang ia benci. Sahabat bertanya: Bagaimana jika yang ku bicarakan itu memang benar adanya? Rasulullah menjawab: Jika yang kamu ceritakan itu memang benar, maka kamu telah melakukan ghibah. Akan tetapi jika yang kamu ceritakan itu tidak benar, maka kamu telah berbohong”. (HR Muslim)

Mudah-mudahan kita termasuk golongan orang yang bisa menjaga mulut dan perbuatan, mampu menghindari kesia-siaan, selalu berpikiran positif dan husnudzon. Mudah-mudahan pula kita pun tidak ter-perangkap dalam kebiasaan menyebarkan ghibah dan fitnah, serta senantiasa selalu berharap rida dan ampunan Allah SWT.

Tanding gulat dalam arena
Para atlet dilarang pasif
Jauhi kata-kata tiada guna
Berpikirlah secara positif

Tak sulit mencari oleh-oleh
Bisa dicari di pasar-pasar
Orang lain mungkin lebih shaleh
Kita mah masih belajar dari dasar.***



BAGIKAN

BERI KOMENTAR