Rabu, 20 Oktober 2021 | Humas.Bandung.go.id Tentang Kami ‧ Kontak Kami
Artikel
Jumat Berkah

Berdakwah dengan Ilmu dan Kesabaran

Jumat, 17 September 2021

Penulis: Mang Oded

ProkopimBandung - Kaum muslimin, memiliki tugas untuk mengajak kepada kebaikan dan melarang terhadap kemunkaran. Tugas ini melekat kepada semua muslim dengan tidak memandang jenis kelamin, usia, pangkat, dan jabatan. Hal tersebut, bisa disebut dengan tugas dakwah yang harus dijalankan setiap individu muslim.

Namun karena keterbatasan, tidak semua individu muslim bisa menjalankan tugas dakwah tersebut. Memang tugas berdakwah, mudah untuk diucapkan namun tidak mudah dalam menjalankannya. Banyak tantangan dan rintangan yang akan dihadapi. Makanya, keberadaan alim ulama, kiyai, atau ustaz wajib dihormati karena tugas yang dijalankannya sangat berat.

Allah Swt telah memberikan penjelasan dan juga strategi dalam menjalankan dakwah untuk menyebarkan Islam. Hal tersebut, termaktub dalam Surat An-Nahl ayat 125-128, ”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk. Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang yang sabar. Bersabarlah (wahai Muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan jangan (pula) bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”.

Hikmah artinya tepat sasaran, yaitu dengan memposisikan sesuatu pada tempatnya. Termasuk ke dalam hikmah adalah berdakwah dengan ilmu, berdakwah dengan mendahulukan yang terpenting. Berdakwah memperhatikan keadaan mad’u (orang yang didakwahi), berbicara sesuai tingkat pemahaman dan kemampuan mereka, berdakwah dengan kata-kata yang mudah dipahami mereka, berdakwah dengan membuat permisalan, berdakwah dengan lembut dan halus. Adapula yang menafsirkan hikmah di sini dengan Alquran.

Sedangkan mau’idhatul kasanah yakni nasehat yang baik dan perkataan yang menyentuh. Termasuk pula memerintah dan melarang dengan targhib (dorongan) dan tarhib (menakut-nakuti). Misanya menerangkan maslahat dan pahala dari mengerjakan perintah dan menerangkan madharrat dan azab apabila mengerjakan larangan.

Jika orang yang didakwahi menyangka bahwa yang dipegangnya adalah kebenaran atau sebagai penyeru kepada kebatilan, maka dibantah dengan cara yang baik. Dengan cara yang dapat membuat orang tersebut mau mengikuti secara akal maupun dalil. Termasuk di antaranya menggunakan dalil yang diyakininya, karena hal itu lebih dapat mencapai kepada maksud, dan jangan sampai perdebatan mengarah kepada pertengkaran dan caci-maki yang dapat menghilangkan tujuan serta tidak menghasilkan faedah darinya.

Bahkan tujuannya adalah untuk menunjukkan manusia kepada kebenaran, bukan untuk mengalahkan atau semisalnya. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan tingkatan (dalam) berdakwah sesuai tingkatan manusia; bagi orang yang menyambut, menerima dan cerdas, ia tidak melawan yang hak (benar) dan menolaknya, maka didakwahi dengan cara hikmah. Bagi orang yang menerima namun ada sisi lalai dan suka menunda, maka didakwahi dengan nasehat yang baik, yaitu dengan diperintahkan dan dilarang disertai targhib (dorongan) dan tarhib (membuat takut), sedangkan bagi orang yang menolak dan mengingkari didebat dengan cara yang baik. Wallaahu A’lam.* Artikel ini pernah dimuat di HU Galamedia.


Kata kunci:

BAGIKAN

BERI KOMENTAR