Sabtu, 17 November 2018 | Humas.Bandung.go.id Tentang Kami ‧ Kontak Kami
Profil
Jalan Braga

Saksi Perjalanan “Kotatje Bandoeng”

Minggu, 5 Agustus 2018

Saksi Perjalanan “Kotatje Bandoeng”
IST.

HumasBandung - Jalan yang panjangnya tak lebih dari 1 km atau hanya sekitar 700 meter ini, tak bisa dilepaskan dari sejarah Kota Bandung. Jalan ini menjadi saksi bisu pertumbuhan kota berjuluk “Parisj van Java”, sejak masih menjadi “kotatje” atau kota mungil sampai menjadi kota besar seperti sekarang.

Berada tepat di jantung kota, Jalan Braga benar-benar tak terpisahkan dari Kota Bandung. Saat ini, kalau kita menyusuri Jalan Braga, masih ada nuansa masa lalu, sehingga kita seperti menjadi bagian dari sejarah masa lalu. Jejak kejayaan Braga pada waktu lampau masih terlihat dari bangunan-bangunan tua bergaya art deco yang megah dan masih berdiri kokoh di beberapa bagian.

Beberapa toko masih mempertahankan style-nya, sehingga menjadi daya tarik di masa kini. Sebelum bernama Bragaweg, jalan ini bernama Jalan Culik dan masih berupa jalan kecil di depan permukiman penduduk pribumi yang cukup sunyi. Saat itu, di jalan tersebut memang rawan terjadi tindak kriminal, seperti penculikan.

Ada cerita unik seperti terkait nama Jalan Culik, seperti diungkapkan oleh Haryoto Kunto (Alm.) dalam bukunya "Wajah Bandoeng Tempo Doeloe". Menurut Haryonto Kunto, kemenakan pemilik toko kelontong "De Vries", M. Klass de Vries yang bernama Jan R. de Vries atau sering disebut "Junior", setiap pulang dari berjaga di toko, berusaha menghindari Jalan Culik yang menyeramkan. untuk sampai di pemondokannya di Merdika Lio.

Setiap pulang, Junior ditemani Atmo dan Karta yang nyoren bedog sambil membawa obor menuju pemondokannya di Merdika Lio. Saking ketakutannya, mereka pulang dengan cara nguriling lewat Alun-alun, jalan Raya Barat, belok Pasar Baru, sampai di prapatan "Pompa" belok kanan menyusuri Suniaraja, lalu nyeberang Cikapundung depan "Grand National" Hotel (kini PT KA). Kemudian belok melewati Gedong Papak (sekarang Balaikota) yang rada ramai sampai malam.
Ketika orang Belanda datang, jalan ini disebut Karrenweg atau Pedatiweg atau Jalan Pedati. Disebut Jalan Pedati, karena jalan yang lebarnya sekitar 10 meter itu banyak dilewati pedati. Maklum saja, saat itu alat transportasi masih didominasi pedati. 

Baraga

Mengenai penggunaan nama Braga, banyak versi yang menyebutkan asal muasal nama Braga. Ada yang menyebutkan bahwa nama Braga berasal dari kata Sunda, baraga yang artinya jalan-jalan. Kebetulan di dekat Braga ada Sungai Cikapundung dan masyarakat kerap baraga atau jalan-jalan menyusuri sungai ini.

Versi lain mengatakan bahwa nama Braga diambil dari nama perkumpulan tonil "Braga" yang didirikan Pieter Sijthoff pada 18 Juni 1882. Tonil "Braga" sangat terkenal, sehingga diabadikan menjadi nama jalan yang kemudian menjadi pusat para sosialita Belanda berkumpul. Tahun-tahun berikutnya, di sekitar Jalan Braga dibangun gedung besar yang dinamakan Socitet Concordia (sekarang Gedung Merdeka). Gedung ini menjadi tempat rekreasi bagi orang-orang Eropa di Bandung.
Setiap akhir pekan atau hari libur, biasanya para pemilik perkebunan yang membentang di berbagai pegunungan di Jawa Barat, beramai-ramai turun gunung untuk berlibur. Pada malam hari, di gedung ini dipentaskan berbagai pertunjukan kesenian, makan malam, dan hiburan lainnya. Gedung ini termasuk yang paling mewah dibandingkan dengan gedung lainnya saat itu. 

Kawasan Elit Sejak Dulu

Di penghujung tahun 1870-an, Jalan Braga berkembang menjadi kawasan elit, setelah kehadiran toko kelontong "De Vries" milik M. Klass de Vries. Toko ini selalu dikunjungi petani Priangan yang kaya raya (Preanger planters) untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari.

Sebagai orang Eropa ke-1500 yang menginjakkan kakinya di Bandung, Tuan Vries memang cerdas, bahkan ada yang menyebutnya sebagai pioner perdagangan di Kota Bandung. Di tokonya, De Vries menyediakan berbagai kebutuhan, mulai dari barang pecah belah, kain, sepatu, alat tulis dan buku, juga obat-obatan. Bisa jadi Toko "De Vries" menjadi cikal bakal supermarket (toko sagala ada) di Bandung.

Ramainya kunjungan petani keturunan Belanda ke toko "De Vries", ungkap Haryoto Kunto dalam "Wajah Bandoeng Tempo Doeloe", membuat kawasan Braga menjadi hidup. Perlahan tetapi pasti mulai berdiri bangunan baru di sekitarnya. Mulai dari hotel, restoran, gedung bioskop hingga bank.

Sebagai kawasan elit, maka tidak sembarang toko dan tempat usaha diizinkan didirikan di Jalan Braga. Butik Au Bon Marche, contohnya, yang hanya menjual pakaian impor dari Paris. Keberadaan butik inilah yang membuat Bandung dijuluki Parisj van Java.

Kemudian ada toko jam Stocker yang hanya menjual jam buatan Swiss, toko bunga Van Doup, toko mobil pertama di Hindia Belanda Fuchs & Rents, hingga penjahit August Savelco yang menjadi langganan tokoh penting seperti JP. Coen hingga Bung Karno.

Terlepas dari berbagai versi nama yang beredar, yang pasti Jalan Braga kemudian menjadi sentra perdagangan dan jasa yang diperuntukkan bagi kaum Belanda. Julukan sebagai "De meetst Europeesche winkelstraat van Indie" atau komplek pertokoan Eropa yang paling terkemuka di Hindia sempat disandang Jalan Braga.

Daya tarik Jalan Braga yang tak lekang oleh zaman, membuat Pemerintah Kota Bandung berupaya "menghidupkan" kembali jalan ini lewat berbagai upaya. Seperti misalnya gelaran Braga Festival atau Brafest. Beragam kegiatan kreatif serta seni dan budaya ditampilkan di gelaran ini. Meski belum optimal, namun kehadiran Brafest bisa "menghidupkan" jalan yang menjadi saksi bisu perkembangan Kota Bandung sejak zaman penjajahan Belanda hingga era globalisasi sekarang.* das - humas.bandung.go.id

 



BAGIKAN

BERI KOMENTAR
Terkait