Minggu, 18 November 2018 | Humas.Bandung.go.id Tentang Kami ‧ Kontak Kami
Profil
Gedung Sate

Kemegahan Bandung Sejak Dulu

Senin, 30 Juli 2018

Kemegahan Bandung Sejak Dulu
IST.
PELETAKAN batu pertama Gedung Sate dilakukan pada 27 Juli 1920.*

HumasBandung - Kota Bandung sebenarnya menyimpan banyak gedung-gedung bersejarah yang dibuat dengan citarasa seni yang tinggi. Coba saja lihat beberapa gedung yang sangat mudah ditemui, seperti Kampus ITB atau juga dikenal dengan nama Gedong Sirap karena atapnya terbuat dari sirap, Balaikota atau Gedong Papak, dan Gedung Sate atau Gedong Sate.

Bila mengetahui latar belakang pembangunan gedung tersebut, bisa jadi kita ternganga-nganga. Pasalnya, gedung-gedung yang penuh wibawa itu ternyata dibangun oleh urang Sunda menggunakan bahan-bahan bangunan seputar Bandung.

Seperti dipaparkan Kuncen Bandung, Ir. Haryoto Kunto (alm) dalam bukunya yang berjudul "Balai Agung Di Kota Bandung", pembangunan Gedong Sate sempat diliputi misteri yang mengundang banyak pertanyaan. Misteri berkaitan dengan siapa arsitektur yang merancang gedung dengan karya seni yang tinggi itu. Ada banyak pendapat tentang siapa arsitektur gedung tersebut.

Menurut Haryoto Kunto, dalam buku "Nieuw Nederlandsche Bouwkunst" yang ditulis Prof. Ir. J.G. Wattjes, arsitektur Gedong Sate adalah Ir. H. Gerber. Tapi rupanya, walaupun Gerber disebut-sebut sebagai arsitekturnya, beberapa pendapat lain justru meragukan. Apalagi, konon, seorang lulusan sarjana teknik zaman baheula, tidak bisa begitu saja langsung merancang gedung. Mereka harus kerja praktik dulu, magang dulu, baru kemudian dianggap sebagai perancang yang cakap.

Selain Gerber, ada juga Porf. Ir. Soetedjo dan Prof. Ir. Sedyatmo. Bahkan ada juga Kolonel V.L. Slors, seorang teknikus yang datang ke Nusantara karena diserahi tugas merancang dan membangun kompleks militer Cimahi, kompleks bangunan militer (kini kompleks Kodam Siliwangi), dan merancang bangunan pusat instansi pemerintah (Gedong Sate). Apalagi ada data yang menyebutkan bahwa blue print (cetak biru) kompleks Gedong sate telah dipersiapkan di Nederland dan pengerjaannya dilakukan satu tim khusus. Sedangkan Gerber sekadar pimpinan proyek (pimpro) atau "mandor besar" saja.

Terlepas dari kemisteriusan itu, peletakkan batu pertama Gedong Sate, dilakukan pada 27 Juli 1920. Gedung ini dibuat dari ribuan balok batu alam yang diambil dari kawasan perbukitan batu di Bandung Timur sekitar Arcamanik dan Gunung Manglayang. Batu-batu ukuran besar dipotong sesusai kebutuhan, untuk kemudian diukir oleh tukang batu keturunan Cina yang ahli mengukir bongpay serta menguasai teknik mengolah batu alam. Untuk lantai, trap, dinding bawah, selasar, dan teras, serta hiasan ornamen, semuanya menggunakan bahan baku yang diukir, ditatah, dan dihaluskan.

Pembangunan Gedong Sate dilakukan dengan cara konvensional tanpa konstruksi beton. Semua ini dilakukan oleh ribuan warga pribumi yang bekerja siang malam.

Dari beberapa catatan, Gerber memang mempunyai peranan cukup besar dalam pembangunan gedung ini. Dialah yang mencari gaya dan bentuk arsitektur yang kontekstual, cocok, dan serasi dengan lingkungan (Indonesia) yang beriklim tropis.

Menurut budayawan Abdullah Mustafa, posisi hampir semua gedung di Bandung termasuk Gedong Sate, selalu mengarah ke utara atau selatan. Tujuannya tiada lain agar pemandangan keindahan alam Bandung Utara dan Selatan yang rimbun, tak terhalang dan dapat dinikmati setiap saat. "Seibarat tusuk sate yang membiting semua keindahan, semua itu tiada lain untuk memanjakan kenyamanan tinggal dan pandangan mata," ujar Abdullah suatu ketika.

Dari segi arsitektur kasar, Gedong Sate memiliki beberapa kemiripan dengan Candi Borobudur. Hal itu dapat dilihat pada bagian lempeng batu di atas pintu masuk yang distylisasi dari bentuk gerbang candi Hindu Jawa. Dengan alas pancaran sinar matahari yang konon sedang menjadi trend mode rumah saat itu.

Seperti niat peruntukkan awal, Gedong Sate memang untuk pusat pemerintahan. Namun kini, kawasan yang memang cukup luas itu, sebagian dipergunakan perkantoran PT Pos dan Museum Filatelli. Sedangkan keasrian dan kenyamanannya sedikit banyak masih terjaga.* das - humasbandung.go.id



BAGIKAN

BERI KOMENTAR
Terkait