Minggu, 18 November 2018 | Humas.Bandung.go.id Tentang Kami ‧ Kontak Kami
Profil
Dimas Bagus Wijanarko

Keresahannya tentang Sampah Mampu Mengolah Sampah Plastik menjadi Bahan Bakar Minyak

Senin, 21 Mei 2018

Keresahannya tentang Sampah Mampu Mengolah Sampah Plastik menjadi Bahan Bakar Minyak
Rahman Muhammad/Humas.Bandung.go.id
DI tangan Dimas Bagus Wijanarko, sampah plastik bisa diubah menjadi bahan bakar. Pria berusia 42 tahun ini telah membuktikannya pada sepeda motor miliknya.*

HumasBandung - Di tangan seorang Dimas Bagus Wijanarko, sampah plastik bisa diubah menjadi bahan bakar minyak. Tak percaya? Pria berusia 42 tahun ini telah membuktikannya pada sepeda motor miliknya.

Menggunakan bahan bakar dari sampah plastik, Vespa tua milik Dimas telah menempuh perjalanan Jakarta - Bandung atau sekitar 150 km. Dimas rencananya akan menempuh perjalanan Jakarta - Bali atau sekitar 1.200 km.

Dalam perjalanannya, penggagas kampanye Gerakan Tarik Plastik atau Get Plastik ini menyempatkan singgah di Kota Bandung, Senin (21/5/2018), untuk menggelar work shop mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar. Dari Bandung, Dimas dan Komunitas Get Plastik akan melanjutkan perjalanan ke Rajagaluh, Majalengka. Melewati 15 titik pemberhentian, mereka dijadwalkan akan tiba di Bali pada tanggal 30 Juni 2018.

Bertempat di Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung, Jln. Sadang Serang, Dimas dan Komunitas Get Plastik membuktikan bahwa sampah plastik bisa diubah menjadi bahan bakar. Meskipun yang dihasilkan adalah bahan bakar, namun peralatan yang digunakan sangatlah sederhana. Hanya serangkaian pipa yang terhubung dengan tabung vakum bertekanan tingg. Tabung ini tersambung dengan gas elpiji yang berfungsi sebagai pemanas.

Cara kerjanya pun terbilang cepat. Segumpal sampah plastik dimasukkan ke dalam tabung vakum. Tabung kemudian dipanaskan hingga mencapai suhu 400 derajat Celcius. Lima menit kemudian, setelah melewati jalur pendinginan, tetesan-tetesan minyak murni keluar dari pipa.

Dimas menggunakan teknik bernama distilasi bertingkat itu untuk mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar. Metode yang digunakan adalah pirolisis, yakni proses dekomposisi termokimia bahan organik melalui pemanasan tanpa menggunakan oksigen atau dengan kadar oksigen sesedikit mungkin.

Selain mudah dan cepat, metode ini hanya menghasilkan residu berupa black carbon atau arang yang dapat dengan mudah terurai secara organik. Ada juga gas propylene yang tidak berbahaya.

Dimas yang tinggal di Jakarta ini, memerlukan riset selama 4 tahun sampai akhirnya menemukan cara mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar. "Saya bukan akademisi, bukan teknisi, saya berbekal ilmu-ilmu yang saya baca dari artikel saja,” tuturnya.

Menurut Dimas, metode yang digunakannya untuk mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar, bukanlah ciptaannya. "Metode ini sudah ada sejak bertahun-tahun lalu. Saya hanya merakit kembali dan menggunakannya untuk mengampanyekan pengurangan sampah plastik,” katanya.

Diungkapkannya, gagasan mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar berawal dari fakta bahwa Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik ke lautan terbesar kedua di dunia, setelah Tiongkok. Dalam satu tahun, ada 180 juta ton sampah plastik yang dibuang ke laut.

"Kenyataan ini membuat saya resah. Tahun 2014 saya mulai riset dan sampai detik ini mengabdikan diri saya total untuk hal ini,” tuturnya.

Setelah Ia mempelajari, ternyata banyak cara untuk mengolah sampah plastik. Dari sekian banyak riset yang dilakukannya, ternyata mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar merupakan cara yang cukup efektif untuk menghilangkan sampah yang paling sulit terurai itu.

“Plastik yang dibuat di Indonesia itu 80-85%-nya adalah minyak. Sisanya itu black carbon atau microplastik. Makanya proses penguraiannya lama karena sebagian besar merupakan minyak. Sementara itu fosil membutuhkan waktu ratusan tahun untuk menjadi minyak lagi,” paparnya.

Apabila dilakukan penelitian yang lebih serius, Dimas yakin sampah plastik akan bernilai ekonomis. Namun yang terpenting baginya saat ini adalah, bagaimana cara mengurangi sampah itu agar tidak terus menumpuk. Cara yang digunakan oleh masyarakat saat ini, yaitu dengan membakar sampah plastik sangat berbahaya, karena residunya menjadi karbonmonoksida yang berbahaya dan masuk kategori sampah B3.

Dimas menuturkan, bahan bakar yang dihasilkan dari proses distilasi ini, bisa berupa solar, premium, atau minyak tanah. Diakuinya, nilai oktan yang terdapat pada hasil distilasi ini belum sama dengan standar yang diberlakukanoleh Pertamina.

“Ini nilai oktannya hanya 82, di bawah premium. Tapi bilangan oktan tidak memengaruhi kinerja, karena mesin yang saya pakai 2 tak,” tuturnya.* nurul - humas.bandung.go.id



BAGIKAN

BERI KOMENTAR
Terkait