Rabu, 19 September 2018 | Humas.Bandung.go.id Tentang Kami ‧ Kontak Kami
Berita
Kolaborasi SPGDT

Cara Tepat Tangani Gawat Darurat

Rabu, 11 April 2018

Cara Tepat Tangani Gawat Darurat
Dinkes Kota Bandung
DINAS Kesehatan Kota Bandung menyelenggarakan Pembinaan SPGDT bagi petugas IGD (Instalasi Gawat Darurat) rumah sakit, Puskesmas, dan Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) terkait lainnya di Aula Kantor Pusat Telkom Bandung, Selasa (10/4/2018).*

HumasBandung – Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) antarelemen merupakan kolaborasi upaya penanganan situasi gawat darurat secara lebih efektif dan efisien. Keberadaan sistem ini sangat membantu masyarakat yang berada dalam kondisi gawat darurat seperti kecelakaan lalu lintas dan bencana untuk mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat.

Untuk mengoptimalkan kolaborasi tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung menyelenggarakan Pembinaan SPGDT bagi petugas IGD (Instalasi Gawat Darurat) rumah sakit, Puskesmas, dan Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) terkait lainnya di Aula Kantor Pusat Telkom Bandung, Selasa (10/4/2018).

Selain Dinkes Kota Bandung, elemen lain yang terkait dalam kolaborasi SPGDT ini adalah Palang Merah Indonesia (PMI), Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), Jasa Raharja, Satlantas Polrestabes Kota Bandung, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Bandung, Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Diskar PB) Kota Bandung, UPT Pusat Pelayanan Keselamatan Terpadu (P2KT), rumah sakit, dan puskesmas.

Kabid Pelayanan Kesehatan Dinkes Kota Bandung, Siska Gerfianti saat membuka acara pelatihan mengatakan, pembinaan SPGDT bertujuan untuk mengoptimalkan pelayanan gawat darurat sebagai gate keeper sistem pelayanan kesehatan di Kota Bandung. Juga untuk mengajak berbagai elemen kesehatan untuk berkolaborasi sebagai wujud pemerintahan yang baik.

“Melalui SPGDT kita berharap program, sistem rujukan dan rujuk balik dapat terlaksana dengan baik serta sistem informasi dan layanan konsultasi kesehatan dapat berjalan optimal melalui kolaborasi ini,” katanya.

Siska mengungkapkan, saat ini pelaksanaan SPGDT belum optimal, misalnya lambatnya informasi tentang ketersediaan tempat tidur di rumah sakit, akses rujukan dari fasilitas kesehatan (faskes) primer ke sekunder dan tersier belum optimal, serta sumber daya manusia di faskes yang terbatas sehingga SPGDT belum berjalan.

“Petugas medis jangan ragu untuk menghubungi pihak kepolisian saat pasien kecelakaan lalu lintas masuk ke IGD agar dapat segera ditindaklanjuti oleh kepolisian ke Jasa Raharja terkait masalah penjaminan dan pembiayaannya. Tangani dulu lalu cari tempat yang bisa digunakan untuk dirujuk, lalu kirim ke tempat rujukan. Intinya ditangani dulu,” tegasnya.

Siska menyebutkan, situasi yang termasuk dalam kategori gawat darurat di antaranya adalah kecelakaan lalu lintas, bencana alam, serta serangan hewan liar. Warga yang mengalami atau berada di lokasi tersebut diharapkan segera menghubungi call center UPT P2KT di nomor 119 atau pihak kepolisian terdekat agar segera mendapatkan pertolongan.

Penanganan situasi gawat darurat di Kota Bandung saat ini terdiri atas 1 call center, 14 RS Pemerintah dan Swasta, dan 8 UPT Puskesmas dengan pelayanan 24 jam. Selain itu, agen-agen SPGDT dari UPT P2KT juga tersebar di faskes tersebut, sehingga pihak puskesmas ataupun rumah sakit bisa mengoptimalkan fungsi dan peran mereka dalam penanganan situasi gawat darurat.

Sementara itu Kepala Cabang BPJS Kota Bandung, Herman Dinata mengatakan, peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang mengalami kondisi darurat bisa ditanggung oleh BPJS. Pelayanan kegawatdaruratan bagi peserta JKN di faskes kerja sama maupun non kerja sama tidak dikenakan biaya tambahan.

“Kami mohon bantuan fasilitas kesehatan (faskes) agar melayani pasien kegawatdaruratan tanpa melihat status keanggotaan BPJS,” katanya.

Hal senada disampaikan Kepala Jasa Raharja Kota Bandung, Dicky S. Permadi. Ia berharap, siapapun warga melihat situasi kecelakaan lalu lintas dapat segera menghubungi kepolisian, Jasa Raharja atau call center 119 agar korban bisa dirujuk ke rumah sakit.***



BAGIKAN

BERI KOMENTAR