Rabu, 19 September 2018 | Humas.Bandung.go.id Tentang Kami ‧ Kontak Kami
Berita
Prediksi WHO

Laka Lantas, Pembunuh Nomor Tujuh di Dunia

Rabu, 4 April 2018

Laka Lantas, Pembunuh Nomor Tujuh di Dunia
Humas.Bandung.go.id
DINKES dan BIGRS menggelar acara “Menguatkan Ketersediaan Data Keselamatan Jalan Dalam Rangka Meningkatkan Intervensi Terhadap Perencanaan dan Evaluasi di Jalan Raya”, Selasa (3/4/2018), di Hotel Arya Dutal, Kota Bandung.*

HumasBandung – World Health Organization (WHO) memprediksi tahun 2030 kecelakaan lalu lintas (laka lantas) dapat menjadi pembunuh terbanyak nomor 7 di dunia. Prediksi tersebut didasarkan pada angka-angka korban kecelakaan lalu lintas yang terus meningkat setiap tahunnya.

Berdasarkan data Bloomberg Philanthropies Initiative for Global Road Safety (BIGRS), secara global dalam setahun angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas sejak 2014 mencapai 12,5 juta orang. Sementara angka luka-luka atau cedera sebanyak 50 juta orang.

Demikian data yang terungkap pada acara “Menguatkan Ketersediaan Data Keselamatan Jalan Dalam Rangka Meningkatkan Intervensi Terhadap Perencanaan dan Evaluasi di Jalan Raya”, Selasa (3/4/2018), di Hotel Arya Dutal, Kota Bandung. Acara diselenggarakan atas kerja sama BIGRS bekerja sama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung melalui Dinas Kesehatan.

Acara tersebut dibuka oleh Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Bandung, Siska Gerfianti dan diikuti oleh perwakilan ahli rekam medis dari 21 rumah sakit di Kota Bandung yang menyediakan data rekam medis terkait kecelakaan lalu lintas di Kota Bandung.

Menurut Siska Gerfianti, proses pengumpulan dan pemeriksaan data di rumah sakit diharapkan dapat dijadikan acuan yang lebih jelas. Pasalnya, data IRSMS (Integrated Road Safety Management System) yang bersumber dari Kepolisian dinilai belum bisa dijadikan acuan untuk memberikan imbauan.

"Sebelumnya dari IRSMS hanya berisi data kecelakaan dan lokasi, sementara yang kita butuhkan adalah data lengkap dari rekam medik, misalkan kecelakaan seperti apa, lukanya di mana, penanganannya bagaimana dan lain-lain," katanya.

Siska mengungkapkan, pentingnya data tersebut agar dapat dijadikan acuan kebijakan seperti apa yang bisa dilakukan oleh Pemkot Bandung. "Misalkan di lokasi tertentu banyaknya kecelakaan yang diakibatkan karena tidak pakai helm, atau dari penyebrangan orang yang tidak tertib, atau penggunaan gadget saat mengemudi, jadi bisa kita berikan penanganan dan himbauan yang tepat," lanjut Siska.

Mengacu pada jumlah kematian akibat kecelakaan lalu lintas yang cukup tinggi, Siska khawatir kecelakaan lalu lintas bisa menjadi penyebab kematian terbanyak nomor 7 di dunia seperti diprediksi WHO. "Kalau tidak terus-terusan kita intervensi, kecelakaan lalu lintas ini bisa menjadi penyebab kematian nomor tujuh di dunia seperti diprediksi WHO. Untuk menurunkan angka kecelakaan, maka penyebab-penyebab kecelakaan perlu analisa agar kecelakaan lalu lintas tersebut dapat diantisipasi," katanya.

Menurut Siska, ancaman kematian tersebut patut diwaspadai, ditambah lagi kematian bukanlah satu-satunya akibat yang akan diderita oleh korban kecelakaan lalu lintas. Banyak sekali kasus kecelakaan lalu lintas di seluruh dunia yang tidak hanya menyebabkan kematian. Kecelakaan lalu lintas menyebabkan kecacatan berat yang korbannya akan menjadi beban keluarga. Kecelakaan lalu lintas lun menyebabkan korbannya cedera sedang sampai berat.

Terkait dengan kerja sama yang dijalin dengan BIGRS, Siska mengatakan, kerja sama bertujuan untuk memperkuat ketersediaan data keselamatan jalan yang menjadi salah satu elemen dari inisiatif yang sudah dilakukan selama 5 tahun. Bekerjasama dengan 20 rumah sakit umum dan satu rumah sakit khusus bedah di Kota Bandung yang dibina oleh Dinas Kesehatan, dilakukanlah pengumpulan dan pemeriksaan data secara sistematis perihal pelaporan kasus kecelakaan dan kematian.

Angka ini bertambah dari tahun sebelumnya yang hanya diikuti oleh delapan rumah sakit besar seperti Rumah Sakit Hasan Sadikin, RSUD Kota Bandung, dan RS Borromeus. Ada juga dua rumah sakit yang pada tahun 2017 telah menyerahkan rekam medis kecelakaan lalu lintas tanpa ditunjuk sebagai pilot project BIGRS, yaitu Rumah Sakit Sartika Asih dan Santosa Central.

Siska berharap, bertambahnya partisipan dari tahun 2017 lalu sebanyak 10 rumah sakit menjadi 21 rumah sakit dalam pengumpulan data, diharapkan dapat menurunkan angka kecelakaan lalu lintas khususnya yang terjadi di Kota Bandung. "Harapannya di tahun 2019 sangka kecelakaan di Kota Bandung sudah menurun," tutur Siska.***



BAGIKAN

BERI KOMENTAR
Terkait