Rabu, 12 Desember 2018 | Humas.Bandung.go.id Tentang Kami ‧ Kontak Kami
Berita

Banyak "Gula" di Kota Bandung, Semut-semut Urbanisasi pun Datang Menyerbu

Rabu, 4 April 2018

Banyak "Gula" di Kota Bandung, Semut-semut Urbanisasi pun Datang Menyerbu
Humas.Bandung.go.id
Pjs. Wali Kota Bandung, Muhamad Solihin ketika memberikan sambutan pada diskusi “Antisipasi Dampak Urbanisasi Terhadap Kehidupan Sosial BUdaya Masyarakat Perdesaan dan Perkotaan Dalam Rangka Ketahanan Sosial” di Aston Tropicana Hotel, jln. Cihampelas, Kota Bandung, Rabu (4/4/2018).*

HumasBandung – Sebagai kota metropolitan, Kota Bandung mempunyai angka urbanisasi yang cukup tinggi. Hal tersebut sebagai dampak dari fungsi yang disandang Kota Bandung, diantaranya sebagai pusat pendidikan, pusat wisata, serta pusat industri dan perdagangan.

Demikian disampaikan Penjabat Sementara (Pjs) Wali Kota Bandung, Muhamad Solihin ketika memberikan sambutan pada diskusi “Antisipasi Dampak Urbanisasi Terhadap Kehidupan Sosial BUdaya Masyarakat Perdesaan dan Perkotaan Dalam Rangka Ketahanan Sosial” di Aston Tropicana Hotel, jln. Cihampelas, Kota Bandung, Rabu (4/4/2018).

Diskusi diselenggarakan oleh Deputi Bidang Pengkajian Strategik Lemhannas RI Direktorat Pengkajian Sosial Budaya. Hadir sebagai pembicara antara lain Tenaga Ahli Pengkaji Bidang Sosial Budaya Lehmannas RI, Sudaryono.

Muhamad Solihin mengatakan, urbanisasi selalu berkaitan dengan permasalah ekonomi dan lapangan pekerjaan. Wilayah sekitar metropolitan seolah menjadi magnet yang kuat menarik warga daerah mencari peruntungan.

Di Kota Bandung dan kota-kota sekitarnya bertebaran pusat-pusat kegiatan ekonomi, termasuk konsentrasi kawasan industri. “Pasti laju urbanisasi Kota Bandung paling tinggi, beberapa pusat pendidikan ada di Bandung, juga beberapa industri ada di sini,” katanya.

Menuru Solihin, fenomena tersebut diperkirakan akan terus meningkat. Tingginya angka urbanisasi memerlukan penanganan yang tepat, karena jika dikelola dengan baik akan menjadi modal bagi Kota Bandung.

Nilai gotong royong sebagai sebuah model pembangunan melalui pola kolaborasi merupakan bukti proses urbanisasi mampu menjadi modal pembangunan. Sikap silih asah, silih asih dan silih asuh menjadi nilai bahwa masyarakat Kota Bandung tetap mampu dijaga dan tercermin dalam kehidupan,” ungkapnya.

Solihin menegaskan, Kota Bandung harus menjadi kota terbuka. Pendidikan, transaksi perdagangan maupun wisata ada semuanya di Kota Bandung.

“Untuk menjaga stabilitas, harus bekerjasama dengan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah daerah agar urbanisasi ini menjadi hal yang positif,” ujarnya.

Sebagai etalase Jawa Barat, tambahnya, hampir semua kebutuhan masyarakat ada di Kota Bandung. “Karenanya saya berpesan kepada warga Kota Bandung, supaya menjaga stabilitas keamanan serta nilai sosial budaya yang berlaku di tanah Sunda, khususnya di Kota Bandung,” pinta Solihin.

Sementara itu, Tenaga Ahli Pengkaji Bidang Sosial Budaya Lehmannas RI, Sudaryono mengatakan, penyebab urbanisasi diantaranya kesulitan mencari pekerjaan di daerah asal, sehingga tenaga kerja produktif mengadu untung di kota-kota metropolitan. Hal ini berdampak kepada padatnya penduduk di perkotaan.

"Hingga saat ini salah satu penyebab utama urbanisasi yaitu lapangan pekerjaan. Dampak ini memberikan pengaruh sosial kepada penduduk perkotaan," jelasnya.

Sudaryono berharap pemerintah mampu membuat program dan strategi jitu agar urbanisasi bisa dipecahkan. "Contohnya ya pembangunan di perdesaan yang harus ditingkatkan, sehingga masyarakat di sana tidak melancong ke kota," tuturnya.***


Kata kunci:
urbanisasimetropolitan

BAGIKAN

BERI KOMENTAR
Terkait