Rabu, 26 September 2018 | Humas.Bandung.go.id Tentang Kami ‧ Kontak Kami
Berita

#PelajarBeraniMandiri Upaya Pemkot Atasi Kemacetan

Rabu, 7 Maret 2018

#PelajarBeraniMandiri Upaya Pemkot Atasi Kemacetan
Humas.Bandung.go.id
PEMKOT Bandung hari ini, Rabu (7/3/2018), mulai mengampanyekan #PelajarBeraniMandiri. Sasaran kampanye adalah siswa SDN 113 Banjarsari, SDN Merdeka, Sekolah Santo Yusuf, dan Sekolah Santa Angela yang berada di kawasan Jalan Merdeka, Kota Bandung.*

HumasBandung – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung hari ini, Rabu (7/3/2018), mulai mengampanyekan #PelajarBeraniMandiri. Sasaran kampanye adalah siswa SDN 113 Banjarsari, SDN Merdeka, Sekolah Santo Yusuf, dan Sekolah Santa Angela yang berada di kawasan Jalan Merdeka, Kota Bandung.

Tidak seperti biasanya, hari ini para orang tua tidak mengantar anak-anaknya sampai depan sekolah. Mereka mengantar anak-anaknya sampai enam titik drop off (menurunkan penumpang) yang disediakan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung, yaitu di Taman Sejarah, Plaza Balai Kota Bandung, Merdeka Arcade FO, Circle K Jalan Aceh, CIMB Niaga Jalan Lembong, dan halaman Polrestabes Bandung. Dari titik drop off, para siswa berjalan kaki menuju sekolah didampingi para relawan dan petugas sampai ke titik penyeberangan. Saat akan menyeberang, sudah ada pula petugas, para guru, dan polisi yang akan membantu.

Kampanye #PelajarBeraniMandiri adalah program Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung untuk mengatasi kemacetan di sekitar sekolah. Salah satunya di sepanjang Jalan Merdeka akibat antrean kendaraan pengantar anak-anak di 4 sekolah yang ada di sana, yaitu Sekolah Santa Angela, SDN 113 Banjarsari, Sekolah Santo Yusuf, dan SDN Merdeka. Program tersebut mengajak kepada orang tua atau pengantar anak agar tidak menurunkan anaknya di depan sekolah.

Kepala Dishub Kota Bandung, Didi Ruswandi mengungkapkan, banyak manfaat yang bisa dirasakan melalui program ini. Selain mengurai kemacetan, kampanye berjalan kaki ini juga mendidik kemandirian pada anak.

“Bagi anak-anak, ini adalah pembangunan karakter. Bagi lingkungan (manfaatnya) adalah untuk mengurangi polusi dan kebisingan. Kalau dari lalu lintas, ini bisa mengurangi kemacetan. Jadi multidimensi, banyak yang bisa diselesaikan dengan eco-transport (transportasi ramah lingkungan-red),” katanya.

Menurut Didi, anak-anak sekolah dipilih menjadi sasaran kampanye karena di usia mereka kepribadian dan karakter masih mudah dibentuk. Anak-anak lebih mudah menangkap pesan sehingga kelak di usia dewasa, mereka bisa memahami bahwa menggunakan moda transportasi ramah lingkungan lebih bermanfaat dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi. Sebab kini 80% warga Kota Bandung lebih memilih kendaraan pribadi untuk bermobilisasi.

“Mereka lebih mudah membentuknya, pola pengajarannya seragam, kalau kampus kan ada pagi siang sore, kalau sekolah kan sama. Lagi pula golden age kan memang di usia mereka, khususnya sampai SMP. SMA mindset-nya sudah terbentuk,” imbuhnya.

Didi mengimbau kepada masyarakat agar mulai beralih moda transportasi kepada yang lebih ramah lingkungan. “Kepada masyarakat kami mengajak untuk bermobilitas dengan transportasi yang ramah lingkungan, jalan kaki, bersepeda, dan kendaraan publik. Kalau mau kendaraan pribadi silakan berkendara bersama, manfaatnya banyak,” pesannya.

Kepala Bidang Perencanaan dan Pembinaan Transportasi Dishub Kota Bandung, Makmur Situmorang menuturkan, kampanye ini sudah dilaksanakan di wilayah Antapani sejak dua minggu yang lalu. Sebagai pilot project, kampanye di Antapani pun terbilang cukup sukses.

“Karena di sana untuk situasinya relatif lebih terkendali, pengawasannya relatif lebih mudah. Lalu lintasnya tidak sepadat di jalur jalur protokol,” tutur Makmur.

Bahkan, kampanye tersebut telah didukung oleh masyarakat setempat. Warga Antapani telah berkomitmen kawasannya menjadi tempat yang ramah lingkungan. “Semuanya mendukung, jadi kita berharap ini bisa terus berlanjut,” kata Makmur.***



BAGIKAN

BERI KOMENTAR