Sabtu, 15 Desember 2018 | Humas.Bandung.go.id Tentang Kami ‧ Kontak Kami
Berita

Basement Air di Pagarsih Berfungsi Baik

Jumat, 2 Maret 2018

Basement Air di Pagarsih Berfungsi Baik
Humas.Bandung.go.id
KEPALA Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Bandung, Arief Prasetya saat memberikan keterangan kepada wartawan pada kegiatan Bandung Menjawab di Ruang Media Balai Kota, Kamis (1/3/2018).*

HumasBandung – Basement air di Jalan Pagarsih, Kelurahan Jamika, Kecamatan Bojongloa Kaler berfungsi baik untuk mencegah luapan Sungai Citepus menggenangi wilayah di sekitarnya. Basement air berupa gorong-gorong raksasa tersebut, berperan sebagai penampung air sementara supaya tidak langsung masuk ke sungai yang daya tampungnya terbatas.

“Air yang telah tertampung di basement, sedikit demi sedikit dialirkan ke Sungai Citepus, sehingga air sungai tidak meluap dan menggenangi wilayah sekitarnya,” ungkap Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Bandung, Arief Prasetya dalam kegiatan Bandung Menjawab di Ruang Media Balai Kota, Kamis (1/3/2018).

Menurut Arief, ketika curah hujan sangat tinggi di hulu sungai, debit air meningkat drastis saat sampai ke hilir sehingga kadang tidak tertampung sepenuhnya di dalam basemen. “Seperti awal tahun, hujan besar, tapi tidak sampai ada genangan,” tuturnya.

Pembangunan basement air merupakan satu dari serangkaian strategi pencegah dan penanganan banjir di Kota Bandung. “Kami akan terus mengevaluasi luas infrastruktur tersebut,” katanya.

Seperti pernah diberitakan, basement air di Jalan Pagarsih baru diresmikan pada Selasa (12/3/2018) lalu. Basement air yang dibangun sejak tahun 2017 tersebut, pengerjaannya menelan anggaran Rp 11 miliar. Mempunyai lebar 5 meter dan panjang 22 meter, basement air dirancang untuk menampung luapan air dari Sungai Citepus yang selama ini kerap merendam kawasan sekitar Jalan Pagarsih.

Pembangunan basement air merupakan bagian dari Program Normalisasi Sungai Citepus Pagarsih. Pembangunan ini merupakan upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung dalam menanggulangi masalah banjir di Kota Bandung. Salah satu upaya penanggulangan masalah banjir, dengan melakukan penanganan secara serius terhadap sumber masalahnya melalui normalisasi sungai.

Sungai Citepus merupakan salah satu sungai yang melintas di tengah Kota Bandung. Untuk menambah kapasitas daya tampung sungai supaya airnya tidak meluas saat musim hujan, pemkot melakukan program normalisasi. Cara ini sekaligus sebagai upaya pemeliharaan dan pelestarian lingkungan.

Program normalisasi perlu dilakukan karena ternyata untuk mempertahankan daya tampung sungai, tidak hanya dilakukan dengan cara merawat dan membersihkan sampah yang ada. Tetapi juga perlu dilakukan perubahan total terkait struktur dan kontur aliran airnya.

Basement air diharapkan bisa mengatasi masalah banjir akibat meluasnya Sungai Citepus. Musibah banjir terbesar terjadi tahun 2016 dan 2017, ketika sebagian Jalan Pasteur sampai Jalan Pagarsih dan Jalan Jamika terendam air luapan Sungai Citepus.

Program Normalisasi Sungai Citepus merupakan awal dari penanganan secara seksama 45 sungai lainnya yang membelah Kota Bandung. Kondisi umum sungai-sungai tersebut sangat mengkhawatirkan akibat pemanfaatannya tidak berjalan pararel dengan upaya melestarikannya.

Wali Kota berharap, Program Normalisasi Sungai Citepus akan dilanjutkan ke sepanjang badan dan aliran sungai ini, juga ke sungai-sungai lain yang ada di Kota Bandung.***



BAGIKAN

BERI KOMENTAR