Jumat, 27 April 2018 | Humas.Bandung.go.id Tentang Kami ‧ Kontak Kami
Berita
Wisata Kuliner Pelangi Balonggede

Suguhan Kuliner Murah di Jantung Bandung

Jumat, 9 Februari 2018

Suguhan Kuliner Murah di Jantung Bandung
humas pemkot bandung
WALI Kota sempat jajan usai meresmikan Wisata Kuliner Pelangi Balonggede, Kamis (8/2/2018).*

HumasBandung - Kawasan Balonggede yang semula dipadati oleh Pedagang Kaki Lima (PKL) dan semrawut kini telah disulap menjadi daerah wisata kuliner yang keren dan berwarna. Wisata Kuliner Pelangi Balonggede resmi menjadi destinasi jajanan baru setelah “digunting pita” oleh Wali Kota Bandung, M. Ridwan Kamil, Kamis (8/2/2018).

Lokasi kuliner sepanjang 400 meter itu ditata secara gotong royong menggunakan dana Corporate Social Responsibility (CSR), sumbangan para pengusaha di sekitar Balonggede, dan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung. Sebanyak 41 kios lengkap dengan meja dan kursi telah siap menjamu para pengunjung.

"Ini baru tahap satu. Tahap selanjutnya kita akan beri penerangan lampu jalan. Tahap tiga kita perbaiki trotoarnya agar lebih nyaman," tutur Ridwan usai peresmian.

Kios-kios PKL berjejer rapi dengan desain khusus sepanjang jalan Balonggede sampai pertemuan dengan Jalan Pungkur di ruas barat. Sementara ruas timurnya sengaja dikosongkan khusus untuk pejalan kaki.

"Saya titip, jangan ada yang jualan di sisi timur. Kalau ada (yang berjualan), kita amankan. Jualan hanya di sisi barat saja," ujar Ridwan kepada para PKL yang merupakan warga setempat.

Kawasan Balonggede ini, tutur Ridwan, menjadi titik ke-15 yang masuk ke dalam daftar penataan PKL Kota Bandung. Sebelumnya, penataan PKL humanis juga dilakukan di Gasibu, Cihampelas, Jalan Merdeka, dan Dayang Sumbi.

"Intinya, Pemkot Bandung sangat peduli dengan UMKM," imbuhnya.

Lokasi kuliner yang beroperasi pukul 07.00-22.00 WIB itu menawarkan beragam jenis kuliner, mulai dari ayam goreng, seblak, hingga minuman coklat. Warga bisa membeli produk-produk Bandung itu dengan harga yang relatif murah.

Tak hanya dikunjungi oleh warga Bandung, lokasi tersebut juga ternyata sering didatangi wisatawan asing, seperti dari Malaysia dan Thailand. Itulah hal yang menguatkan warga agar setuju dengan program penataan PKL itu.

Ridwan hanya berpesan agar para PKL ikut bertanggung jawab atas fasilitas tersebut. Ia tidak ingin warga selalu bergantung dan terlalu mengandalkan pemerintah.

"Saya hanya titip kebersihan di lokasi ini harus terus dijaga. Jangan sampai fasilitas yang sudah keren ini ternodai hanya karena masalah sampah," tegasnya.

Ia pun tidak berkeberatan jika warga sesekali menginginkan adanya festival yang digelar di kawasan itu. Baginya, hal itu adalah kegiatan positif untuk mendongkrak ekonomi warga dan sebagai wadah ekspresi kreativitas masyarakat.

"Saya ijinkan kalau diperlukan digelar festival-festival di Balonggede. Kalau mau nutup jalan nggak masalah, nanti bisa diatur," ujarnya.

Sementara iu, Ketua Asosiasi Persatuan Pedagang Kaki Lima (APPKL), Iwan Suhermawan mengucapkan terima kasih atas komitmen pemerintah terhadap penataan PKL di wilayah tersebut. Menurutnya, kolaborasi ini sangat baik dan bisa menjadi contoh untuk dilakukan di tempat lain.

"Ketika pemerintah, potensi masyarakat, dan pengusaha bersatu, itu bisa menyelesaikan persoalan PKL, menjadi satu kekuatan luar biasa," kata Iwan.

Iwan tak mengira, penataan PKL yang semula diperkirakannya akan sangat berdinamika ternyata bisa berjalan dengan sangat mudah dan kooperatif.***



BAGIKAN

BERI KOMENTAR