Sabtu, 23 Juni 2018 | Humas.Bandung.go.id Tentang Kami ‧ Kontak Kami
Berita
Pembangunan Kota Bandung 2017

Banyak Keberhasilan yang Diraih

Jumat, 12 Januari 2018

Banyak Keberhasilan yang Diraih
HumasBandung.go.id
WALI Kota Ridwan Kamil sering terjun langsung memantau berbagai kegiatan pembangunan di Kota Bandung.*

HumasBandung - Tahun berganti, pemimpin boleh berganti, namun pembangunan di Kota Bandung harus terus berlanjut. Program-program yang baik dan bagus, sebaiknya dilanjutkan dan disempurnakan untuk memberikan manfaat yang maksimal bagi warga kota.

Demikian disampaikan Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil ketika berbicara mengenai pembangunan di Kota Bandung. “Pembangunan itu jangan karena beda wali kota lantas beda kebijakan. Beda wali kota justru ada penambahan inovasi-inovasi baru, yang bagus jangan dihilangkan. Contoh program Pak Dada (Dada Rosada, red) yang bagus, saya perbaiki. Kredit Melati warisan Pak Dada, saya perbaiki jadi lebih baik. Beasiswa untuk sarjana yang dulu namanya Bawaku Mahasiswa, saya teruskan dan sekarang anggarannya dinaikkan dari Rp 5 miliar menjadi Rp 30 miliar,” ungkapnya saat ditemui di Pendopo Kota Bandung, Jumat (18/12).

Mengenai program-program pembangunan yang telah dilaksanakan Pemkot Bandung tahun 2017, wali kota yang akrab disapa Emil ini mengatakan, banyak pencapaian yang sudah diraih Pemkot Bandung di tahun 2017, seperti di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, agama, olah raga, seni dan budaya, dan lingkungan hidup. Tak hanya berhasil diwujudkan, diantara program-program yang digulirkan Pemkot Bandung tersebut, berhasil mendapat apresiasi berupa penghargaan, baik dari tingkat Jawa Barat, nasional, maupun internasional.

“Survei Majalah Tempo dan Frontier Consulting menempatkan Kota Bandung sebagai kota terbaik di bidang infrastruktur, pariwisata, investasi, dan ekonomi regional. Jadi dari persepsi publik yang disurvei, kota ini mendapat poin positif terbanyak di Indonesia,” katanya.

Diakuinya, tidak semua program bisa diselesaikan pada tahun 2017, masih ada beberapa yang belum selesai, salah satunya kemacetan. Untuk kemacetan itu harus dipahami karena masalahnya multidimensi. Pemkot sedang melakukan upaya untuk mengatasinya. Pertama, menambah pusat pertumbuhan di Gedebage untuk mengurangi pergerakan warga dari wilayah timur ke pusat kota yang menjadi salah satu penyebab kemacetan.

Kedua, memaksimalkan kebijakan rayonisasi sekolah supaya anak-anak bersekolah di dekat rumahnya, sehingga mereka tidak menggunakan kendaraan ke sekolah, cukup berjalan kaki atau naik sepeda. Salah satu penyebab kemacetan adalah pergerakan anak-anak sekolah lintas wilayah pada pagi dan sore hari. Ketiga, membenahi trotoar supaya warga mau berjalan kaki untuk mencapai tempat-tempat yang dekat. Keempat, menggenjot pembangunan LRT (Light Rail Transit).

Dari segi infrastruktur, masalah penanganan banjir belum sepenuhnya tuntas, seperti banjir di kawasan Pasteur, Pagarsih, dan pembuatan kolam retensi. “Pagarsih harusnya sekesai akhir Desember 2017, tapi masih ada 50 hari waktu pemeliharaan untuk penyelesaannya,” tandasnya.

Emil mengakui, ada dua proyek pembangunan yang gagal dilaksanakan pada tahun 2017, yaitu pembangunan Alun-alun Cibiru dan Gedung LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran) di Gedebage. “Alun-alun Cibiru itu karena telat gambarnya, kalau LPTQ di wilayah Gedebage baru ketahuan ternyata nggak ada aksesnya. Jadi pemkot beli lahan tapi nggak ada aksesnya. Sekarang belum ada pembangunan, kita beli dulu tanah yang di sebelahnya untuk aksesnya,” paparnya.

Emil yang akan mengakhiri masa kepemimpinannya bersama Wakil Wali Kota Oded M. Danial pada 16 September 2018 mengatakan, masih ada waktu 9 bulan untuk mengerjakan beberapa pembangunan yang belum selesai di tahun 2017.

“Bagi wali kota selanjutnya, ada banyak hal-hal positif yang bisa diteruskan. Ada 302 ukuran perubahan keberhasilan dalam bentuk penghargaan. Dalam sembilan bulan terakhir saya akan perjuangkan proyek-proyek yang belum selesai. Pondasinya dilakukan pada masa kepemimpinan sayaj, namun baru akan terasa manfaatnya di masa kepemimpinan selanutnya. Jadi pemimpin itu tidak selalu yang memanen. Saya yang menanam, nanti wali kota berikutnya yang memanen,” ujarnya.

Inovasi baru
Selain menyelesaian pembangunan fisik yang belum selesai, lanjutnya, di tahun 2018 Pemkot Bandung pun akan membuat inovasi-inovasi baru di bidang pembangunan non fisik. Di bidang pendidikan, Pemkot Bandung tidak hanya menggratiskan SPP saja, tetapi nantinya juga akan memberikan peralatan dan kebutuhan sekolah secara gratis.

Selain itu, untuk beasiswa mahasiswa akan diberikan juga bagi mahasiswa program S2. “Tahun2018 Pemkot Bandung tetap mengalokasikan anggaran sebesar Rp 30 miliar untuk beasiswa mahasiswa tingkat sarjana yang ada di 56 perguruan tinggi negeri dan swasta di Kota Bandung. Anggaran yang tidak terserap, akan dipindahkan untuk beasiswa mahasiswa S2,” katanuya.

Di bidang kesehatan, Pemkot Kota Bandung akan terus berusaha supaya seluruh warganya tercover asuransi kesehatan. Bagi warga yang belum tercover asuransi, akan dilayani menggunakan dana dari Baznaz. Di bidang ekonomi, bulan April 2018 akan masuk investasi senilai Rp 2 triliun lebih ke Kota Bandung.

Masih di bidang ekonomi, pemkot pun akan terus memberdayakan warga kota supaya kesejahteraan mereka meningkat. “Segala instrumen kita gerakkan untuk menjadikan masyarakat sebagai agen perubahan, kita hanya menfasilitasi sistemnya. Kalau ini berhasil, saya kira kesejahteraan naik dan juga kita bisa berantas kemiskinan dengan maksimal,” ungkapnya.

Emil yang akan mengakhiri masa kepemimpinannya bersama Wakil Wali Kota Oded M. Danial pada 16 September 2018 mengatakan, masih ada waktu 9 bulan untuk mengerjakan beberapa pembangunan yang belum selesai di tahun 2017.

“Bagi wali kota selanjutnya, ada banyak hal-hal positif yang bisa diteruskan. Ada 302 ukuran perubahan keberhasilan dalam bentuk penghargaan. Dalam sembilan bulan terakhir saya akan perjuangkan proyek-proyek yang belum selesai. Pondasinya dilakukan pada masa kepemimpinan sayaj, namun baru akan terasa manfaatnya di masa kepemimpinan selanutnya. Jadi pemimpin itu tidak selalu yang memanen. Saya yang menanam, nanti wali kota berikutnya yang memanen,” ujarnya.***



BAGIKAN

BERI KOMENTAR