Selasa, 26 Mei 2020 | Humas.Bandung.go.id Tentang Kami ‧ Kontak Kami
Artikel
Syiar Ramadan

Shaum, Mengubah Kualitas Diri

Kamis, 21 Mei 2020

Penulis: H. Oded M. Danial

HumasBandung - Pencernaan manusia ibarat mesin, yang sesekali harus dirawat. Biasanya organ tubuh itu digunakan kapan saja dan mungkin juga secara tidak beraturan. Namun selama se-bulan dalam setahun diistirahatkan di siang hari dengan berpuasa. Logika ini tentu sangat sederhana, karena substansi puasa juga berorientasi kepada penguatan kapasitas spiritual.

Puasa bukan sekedar menahan nafsu makan dan minum pada waktu yang ditentukan, tetapi terkait keharusan menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan. Meski makanan yang ada di depan mata ter-golong halalan thayyiban, orang berpuasa tidak akan menyentuhnya. Begitu pula istri atau suami yang diikat dalam hukum nikah secara sah, juga tidak bisa diakrabi jika bukan pada saatnya. Semua ini merupakan bagian dari kepatuhan orang berpuasa.

Nilai-nilai inilah yang kemudian menjadikan puasa menjadi sarana pembelajaran. Setidaknya melatih disiplin, teguh kepada pendirian, dan berempati kepada orang yang terbiasa kekurangan pangan. Proses ini disebut juga sebagai upaya menuju kualitas hidup yang lebih baik lagi, atau dalam bahasa al qur’an dikatakan sebagai insan yang taqwa, sebagaimana dijelaskan dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 183, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa".

Sebagai sarana untuk berproses, tentu tidak mudah untuk menjalaninya. Cobaan dan ujian lebih dari aspek fisik biologis, tetapi mencakup segala hal yang bersen-tuhan dengan nilai-nilai sosial dan spiritual yang akrab dengan kehidupan manusia. Tidak aneh jika ulama sufi membagi puasa menjadi tiga kriteria, yakni puasa umum, puasa khusus, dan puasa sangat khusus.

Jika puasa umum hanya sebatas menahan lapar dan dahaga, maka puasa khusus ditambah kemampuan menahan diri dari segala sesuatu yang mengurangi nilai ibadah tadi dengan menjaga hati, mulut, dan pikiran. Sedangkan puasa sangat khusus setingkat di atas puasa khusus disertai berserah diri kepada Allah SWT.

Tentu saja setiap orang berpuasa akan berupaya memenuhi kriteria tertinggi, meski penilaian akhir bukan ditentukan manusia. Apalagi puasa sangat berbeda dengan ibadah lain, karena berhubungan langsung dengan Allah SWT. Ibadah salat, sedekah, dan naik haji misalnya, hampir tidak bisa didustakan karena terlihat secara kasat mata oleh orang lain. Tetapi orang yang berpuasa tidak bisa dilihat siapa pun kecuali oleh Sang Khalik.

Hal itu berarti ibadah puasa merupakan sarana untuk berproses. Dari yang tadinya kurang patuh kepada aturan menjadi lebih disiplin, atau dari kurang jujur menjadi orang yang bisa memegang amanah.

Oleh karena itu sudah sewajar-nya jika ibadah puasa menjadi saat yang tepat untuk menegakkan nilai-nilai kejujuran dan kepatuhan kepada aturan. Mudah-mudahan pula, proses pembiasaan ini akan menjadi bekal berharga dalam menempuh perjalanan selanjutnya.

Dengan pemahaman seperti ini diharapkan pula ibadah di bulan Ramadan menjadi pemicu semangat perubahan menuju derajat insan yang paling tinggi, baik dalam sudut pandang manusia maupun penilaian Allah SWT.

Jika kebiasaan di bulan Ramadan diterapkan pada bulan-bulan berikutnya, hampir pasti umat muslim bisa menjadi teladan dalam berbagai hal. Misalnya tidak akan membuang sampah sembarangan, bekerja dengan jujur dan disiplin meski tanpa pengawas, tidak ada lagi kasus suap-menyuap dan korupsi, bahkan mungkin menjadi faktor pendorong terwujudnya negara yang baldatun thayyibatun warabbun ghafuur.

Berita sensasi membuat gempar
Meski itu hanyalah isu
Puasa tak sekedar menahan lapar
Tapi juga mengendalikan nafsu

Janganlah sedih berputus asa
Tetap tegar dan selalu kuat
Biasakan diri berpuasa
Agar badan selalu sehat.***



BAGIKAN

BERI KOMENTAR