Selasa, 25 Juni 2019 | Humas.Bandung.go.id Tentang Kami ‧ Kontak Kami
Artikel

Mudik, Drama Tahunan para Perantau

Rabu, 29 Mei 2019

Penulis: Rayhadi

HumasBandung - “Bagian terbaik dari sebuah perjalanan adalah saat kita menemukan alasan untuk pulang.”

Membaca kutipan di atas, makna yang tersirat adalah sebuah peristiwa kepulangan. Pulang sering dimaknai dengan kembalinya seseorang dari tempat beraktivitas menuju rumahnya.

Menjelang hari Raya Idulfitri, masyarakat Indonesia, khususnya para perantau memiliki sebuah tradisi pulang kampung. Tradisi tersebut dinamakan Mudik.

Sejumlah sumber menyebutkan, jika menggunakan pendekatan historis, kata mudik sebenarnya berasal dari kata udik (kembali ke udik atau menuju udik, kampung atau desa). Peristiwa mudik itu sudah ada sejak zaman Majapahit. Para pekerja di kota-kota besar kembali ke kampung halamannya saat hari besar untuk berkumpul dengan keluarga.

Jika berkaca pada istilah Jawa, mudik berasal dari kata "mulih disik" yang artinya pulang sejenak untuk bertemu keluarga di kampung halaman. Dan akhirnya, kata-kata tersebut di atas menjadi kata serapan yakni mudik, yang memiliki makna sederhana pulang kampung.

Kemudian, mudik mulai dikenal di Indonesia pada dekade 1970-an dengan pola yang sama: pekerja di kota-kota besar pulang ke kampung halamannya untuk bertemu keluarga atau sanak saudara. Sejak saat itu, kegiatan mudik menjadi rutinitas tahunan bagi masyarakat Indonesia hingga saat ini.

Hal tersebut juga berlaku di Kota Bandung. Sebagai kota urban yang menjadi tempat perantauan dan pendidikan masyarakat Priangan sampai luar Jawa Barat, maka banyak warga Bandung yang berkampung halaman diluar wilayah Bandung melakukan mudik, khususnya pada Hari Raya Idulfitri.

Mereka yang merupakan perantau di Kota Bandung, biasanya mudik sejak seminggu menjelang lebaran. Namun, biasanya puncak keberangkatan mudik terjadi pada hari ketiga atau kedua sebelum lebaran. Faktor ingin merasakan berbuka puasa atau sahur bersama sanak saudara di kampung halaman menjadi alasannya.

Pemudik di kota Bandung biasanya berasal dari wilayah Priangan seperti Garut, Tasikmalaya, Banjar, Ciamis, Pangandaran, Cirebon, Majalengka, Kuningan dan wilayah lainnya. Meski tidak sedikit juga pemudik yang pulang kampung ke wilayah luar Jawa Barat.

Ada banyak cara yang ditempuh oleh para pemudik, khususnya di Kota Bandung. Diantaranya dengan menggunakan transportasi umum, kendaraan pribadi berupa mobil atau motor.

Bahkan, saking bekennya istilah mudik, Pemerintah Kota tiap tahunnya menyelenggarakan acara mudik gratis yang kemudian diburu oleh para pemudik.

Tahun ini, Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Perhubungan (Dishub) menggelar acara mudik gratis dan menyiapkan 3 unit bis mudik gratis. Tujuanya, Yogyakarta dan Solo melalui dua jalur yakni Jalur Selatan dan Utara). Jumlah tersebut juga ditambah oleh ada 75 unit bis yang merupakan kerjasama dengan Pemerintah Kota dengan BUMN di Kota Bandung.

Lalu mudikkah anda lebaran tahun ini? Jika mudik, salam hangat untuk keluarga di kampung halaman.***


Kata kunci:

BAGIKAN

BERI KOMENTAR
Terkait