Kamis, 22 November 2018 | Humas.Bandung.go.id Tentang Kami ‧ Kontak Kami
Artikel
Esai

Menjaga Amanah

Senin, 12 Maret 2018

Penulis: H. Dedy Rokhaedie Arief

HumasBandung - Pada suatu kesempatan Imam al-Ghazali bertanya kepada murid-muridnya, tentang apa yang timbangannya paling berat di dunia ini. Di antara muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan ada juga yang menjawab batu. Dengan bijak, al-Ghazali berkomentar, bahwa semua yang disebutkan tadi itu benar, tetapi harus diketahui bahwa yang paling berat di dunia ini adalah memikul amanah.

Beratnya memikul amanah dilukiskan Allah dalam Al-Quran: "Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh".(QS al-Ahzab:72).

Tetapi, betapa pun beratnya memikul amanah, kita umat Islam diperintahkan untuk melaksanakan amanah tersebut dengan adil, tidak terpengaruh oleh hubungan suka atau tidak suka. Sekalipun, misalnya, kita sedang diliputi kebencian, keadilan tetap harus ditegakkan.

Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan".(QS al-Maidah:8)

Tindakan manusia yang paling mungkin meninggalkan keadilan adalah kekuasaan. Oleh karena itu, kekuasaan harus dipandang sebagai amanah Allah. Amanah tersebut harus ditunaikan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya.

Firman Allah: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah-amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil..."(QS an-Nisa:58)

Kalimat amanah pada ayat ini berbentuk jamak (amanah-amanah), yang mengandung arti bahwa amanah Allah itu banyak, khususnya berupa kelebihan-kelebihan yang kita miliki. Kekuasaan dan harta adalah amanah. Maka menjalankan pemerintahan harus adil. Demikian juga dalam mengelola harta kekayaan, selain digunakan untuk keperluan kita dan keluarga, juga harus memiliki manfaat sosial, yaitu disalurkan kepada masyarakat yang memerlukan bantuan.

Dalam Al-Quran ditegaskan bahwa salah satu bentuk menyalahgunakan kekuasaan adalah melindungi tindakan-tindakan yang salah. Tidak hanya berupa tindakan salah dari penguasa secara langsung, tetapi melindungi orang lain yang bersalah melalui rekayasa kekuasaan. Ini tergambar dalam sebuah ayat yang berkaitan dengan ekonomi: "...dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui." (QS al-Baqarah:188)

Memang menegakkan kebenaran dan keadilan itu memerlukan waktu. Tidak bisa instan. Apalagi kalau menyangkiut masyarakat yang besar. Itu semua harus kita perjuangkan dengan penuh kesungguhan, keyakinan yang tidak tergoyahkan, dan terus menerus berdoa kepada Allah SWT.

Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk senantiasa beristiqamah berada dalam kebenaran. Aamiin.***



BAGIKAN

BERI KOMENTAR
Terkait