Rabu, 12 Desember 2018 | Humas.Bandung.go.id Tentang Kami ‧ Kontak Kami
Artikel

Mengelola Titipan

Minggu, 4 Maret 2018

Penulis: HD Sutarjan

HumasBandung - Keberadaan manusia di dunia ini sebenarnya merupakan kelanjutan misi Adam diturunkannya dari surga. Adam diturunkan ke bumi hanya mengemban tugas untuk mempertahankan kemuliaan manusia, supaya nanti kembali kepada-Nya masih tetap dalam keadaan mulia.

Kehidupan kita sekarang, bukanlah untuk berlomba siapa di antara kita yang paling kaya, siapa di antara kita yang paling tinggi pangkatnya. Bukanlah untuk berlomba siapa di antara kita yang paling bagus badannya, paling mewah rumah dan mobilnya. Karena orang yang paling kaya sekalipun, dia akan mati dan meninggalkan kekayaannya. Sementara yang dibawa, jika kemuliaan sebagai buah dari ketakwaannya nantinya akan ditempatkan di tempat mulia berupa surga. Jika amal yang dilakukan di dunia itu jelek, maka yang dibawa hanyalah kehinaan yang nantinya akan disatukan dengan iblis di tempat yang sangat hina pula, yaitu neraka.

Kaya atau miskin, tinggi pangkat atau rendah, itu hanya merupakan agenda ujian kehidupan. Semuanya itu ada limit waktunya, yang pasti akan berpisah dengan diri kita. Sangat disayangkan, banyak orang berlomba-lomba mencari kekayaan dengan menjual kemuliaan. Begitu juga tidak sedikit orang miskin yang tidak sabar dengan kemiskinannya, sehingga dia terjerumus pada berbagai kemaksiatan; pencurian, perjudian, pelacuran, dan lain-lain. Sungguh celaka, miskin di dunia dan miskin pula di akhirat. Naudzubillah.

Dalam surat at-Takatsur ayat 8 dinyatakan dengan jelas: "Tsumma latus alunna yauma idzin anin na'iim - Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (bermegah-megahan di dunia itu)" . Ternyata segala sesuatu yang kita terima dari Allah adalah merupakan titipan yang nanti akan dipertanyakan di yaumil hisab.

Dalam mengelola titipan dari Allah itu, kita harus tunduk kepada Sang Pemilik yang sebenarnya. Allah memerintahkan harta titipan itu untuk zakat, infak, shadaqah, menolong orang, dan lain-lain, maka kita harus laksanakan perintah itu. Justru harta yang diberikan kepada orang lain itulah yang akan menjadi milik kita yang sebenarnya, yang akan kita nikmati kekal abadi di hari kemudian. Sementara harta yang kita pegang sampai akhir hayat, akan beralih menjadi milik orang lain, namun tanggung jawabnya dibebankan kepada kita. Naudzubillah.

Dalam hal mengejar materi, Rasulullah menggambarkan, bahwa rezeki/harta yang kita terima itu bagaikan air dalam bejana. Kita tak perlu tahu berapa banyaknya, dan tidak perlu juga banyak-banyak menerimanya. Dalam bejana itu ada dua kran, yang satu kran haram dan satunya lagi kran halal. Apabila kita membuka kran haram, maka rezeki yang masuk membawa dosa. tetapi apabila kran halal yang kita buka, maka rezeki yang masuk akan membawa ampunan.

Jika hari ini kita berani menolak uang haram sekian rupiah, misalnya, yakinlah uang itu akan kembali kepada kita lewat kran yang halal. Itu sudah merupakan aturan main Rabbulalamin. Rezeki tidak akan ke mana, hanya tinggal kita yang membukanya, mau dari jalan yang haram ataukah dari jalan yang halal.***



BAGIKAN

BERI KOMENTAR
Terkait