Rabu, 12 Desember 2018 | Humas.Bandung.go.id Tentang Kami ‧ Kontak Kami
Artikel
Esai

”Sakadang Kuya”

Minggu, 18 Februari 2018

Penulis: Ahmad Yusuf

HumasBandung - Sakadang Kuya (Sang Kura-kura) dikurung dalam kandang ayam. Pak tani menangkapnya, karena dia bersama Sakadang Monyet (Sang Kera) telah mencuri cabai di kebun. Sang kura-kura merasa dizalimi. Betapa tidak? Semua ini, ulah sang kera. Dia juga yang mengajak untuk mengambil cabai milik Pak Tani. Namun, pada akhirnya, dia malah kena getahnya.

Niat Sang Kera memang ingin mencelakai Sang Kura-kura, maka dia sengaja berteriak-teriak: ”Seuhah lata-lata,” berulang-ulang. Akibatnya Sang Kura-kura ditangkap, karena dia begitu lelet berlari. Sementara Sang Kera kabur entah ke mana?

Merasa tak adil, Sang Kura-kura berpikir menjelang eksekusi besok harinya. Pak Tani berkata pada anak gadisnya, dia akan menyembelih Sang Kura-kura, lalu akan dibuat sate.

Sang Kura-kura yang panjang akal, menemukan ide cemerlang. Dia berdendang, bahwa dia akan dinikahkan dengan anak pak tani. ”Heuheuy, isukan urang rek dikawinkeun ka anak pa tani nu geulis nyari,” ujar Sang Kura-kura, dia tahu Sang Kera tak lari jauh.

Benar saja! Sang Kera tertarik dengan nyanyian Sang Kura-kura, yang begitu gembira dia ditangkap dan dikurung. Akhirnya, dia mau pasang badan menggantikan Sang Kura-kura. Apa lacur, ternyata semuanya hanya dusta. Sang Kera pun mencari akal, jangan sampai Pak Tani menyembelihnya. Dia pura-pura sakit bahkan dalam keadaan sekarat.

Pak Tani kecewa berat. Awalnya ingin menyantap sate kura-kura. Malah didapatinya, Sang Kera yang sedang sekarat dalam kurungan. Maka dibuanglah Sang Kera ke sungai.

Cerita ini merupakan kisah klasik dari Tatar Sunda. Do­ngeng atau kisah ”Sakadang Kuya jeung Sakadang Monyet”, sudah berulang-ulang diceritakan secara turun-temurun. Entahlah apakah para pelaku korupsi, juga terilhami oleh cerita ini. Semoga saja cerita itu, bukan mengilhami untuk berbohong. Terutama generasi berikutnya yang mendengar do­ngeng itu.

Padahal, tentu, tujuannya bukanlah demikian. Pesan moral cerita itu, agar jangan mencelakakan teman. Perbuatan buruk, akan dibalas dengan hal yang sama. Seperti ungkapan melak bonteng moal jadi cabe, lakulampah goreng moal jadi hade.

Akan tetapi, apa yang dilakukan Sang Kura-kura dan Sang Kera, seperti pemandangan yang sudah lazim sekarang ini. Banyak tersangka atau terdakwa pelaku korupsi mendadak sakit seperti yang dilakukan Sang Kera. Tindakan ini agar terbebas dari jeratan hukum atau kurungan dalam sel. Lebih baik mengeluarkan uang untuk (pura-pura) berobat, ketimbang dikurung dalam ”hotel prodeo”.

Kebohongan Sang Kura-kura, juga banyak dipertontonkan untuk menyelamatkan diri sendiri. Dia tak mau dikorbankan, maka dia harus berbohong. Begitulah cerita rekaan jadi kenyataan.***



BAGIKAN

BERI KOMENTAR
Terkait