Rabu, 12 Desember 2018 | Humas.Bandung.go.id Tentang Kami ‧ Kontak Kami
Artikel
Esai

Sejatinya Pemimpin

Selasa, 23 Januari 2018

Penulis: Abu Ainun

HumasBandung - Kehadiran seorang pemimpin yang baik selalu dirindukan oleh rakyatnya sepanjang masa, termasuk masyarakat kita yang merindukan sosok pemimpin yang diidamkan. Sesungguhnya, pemimpin yang bagaimana dan seperti apa yang baik itu?

Al-Quran ternyata memberikan banyak gambaran ideal mengenai sosok seorang pemimpin, salah satunya adalah Iskandar Zulkarnain. Dalam surat Al Kahfi, Allah SWT memaparkan kriteria pemimpin sejati yang bisa ditemukan pada diri Raja Zulkarnain.

Walaupun kisah Zulkarnain dalam khasanah Islam masih diselimuti misteri; apakah Iskandar Zulkarnain yang diceritakan Allah dalam Al-Quran adalah sosok yang sama dengan Aleksander Agung (Alexander The Great) versi Barat? Dalam Al-Quran, kita memang tidak mendapat penjelasan tentang siapa Zulkarnain, dari mana asalnya dan kapan kejadiannya. Hal itu tidak terlalu penting, karena yang terpenting adalah pelajaran apa yang bisa diambil darinya.

Raja Zulkarnain berkelana bersama pasukannya menaklukan negara-negara yang dilewatinya. Yunani, Turki, Persia, Babilonia, Palestina, Mesir, Libya, Asia Tengah, India, dia juga melampaui Tunisia dan Maroko, dan membangun kota Afrika hingga benua itupun disebut Afrika. Dia berhasil mencapai dua "tanduk matahari", yakni Timur dan Barat, sehingga dia pun dijuluki dan digambarkan dengan sepasang tanduk.

Ada beberapa pelajaran yang dapat kita tangkap dari kisah Iskandar Zulkarnain yang heroik itu, khususnya dalam konteks kepemimpinan yang didambakan umat.

Zulkarnain adalah raja yang memiliki kekuasaan yang membentang dari Semenanjung Balkan hingga ke tepi barat Sungai Indus di Pakistan, dengan bantuan tentaranya yang kuat dan terlatih. Namun dengan kekuasaannya itu ia tidak lantas menyombongkan diri. Ketika ia mendapati segolongan umat yang telah menyerah kepadanya, ia justru tidak berniat untuk menzalimi dan mengambil keuntungan dari mereka, padahal Allah memberikan pilihan kepadanya antara berbuat baik atau bertindak buruk. Namun ia justru mengajak mereka kepada iman dan amal shaleh.

Pemimpin yang baik adalah pelayan bagi masyarakat yang dipimpinnya, begitupun dengan Raja Zulkarnain ia menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin yang sejati dengan melayani dan melindungi rakyatnya, tanpa sedikitpun meminta imbalan.

Hal ini tampak ketika dalam pengembaraannya, Zulkarnain mendapati suatu umat yang dalam keadaan terancam dari Ya'juj dan Ma'juj yang suka melakukan kerusakan di muka bumi. Maka Zulkarnain mengerahkan masyarakat tersebut untuk membangun tembok yang sangat kuat yang terbuat dari besi dan tembaga, yang dibangun di antara dua gunung sehingga tertutup bagi Ya'juj dan Ma'juj untuk memasuki wilayah penduduk itu.

Kesediaan Zulkarnain membangun tembok yang kuat dari besi dan tembaga guna melindungi masyarakat dari gangguan Ya'juj dan Ma'juj menunjukkan bahwa ia adalah pemimpin yang memberi perhatian penuh kepada rakyatnya untuk memperoleh keadilan dan terbebas dari segala bentuk kezaliman.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang selalu berorientasi pada kebaikan, kebaikan bagi rakyat yang dipimpinnya. Karena itu Zulkarnain mengarahkan masyarakat yang dijumpainya untuk beriman dan beramal shaleh.

Oleh karena itu, para pemimpin dari level terendah hingga tertinggi sepatutnya mencontoh sifat-sifat baik kepemimpinan Raja Zulkarnain, yang berupaya menegakkan keadilan, memberantas kezaliman, mengajak beriman dan beramal shaleh, bukan malah bersekongkol dengan orang-orang yang melakukan kezaliman dan kesrusakan di muka bumi.***



BAGIKAN

BERI KOMENTAR