Rabu, 26 September 2018 | Humas.Bandung.go.id Tentang Kami ‧ Kontak Kami
Artikel
Esai

”Wilujeng Shopping”

Senin, 22 Januari 2018

Penulis: Noe Firman

HumasBandung - Kota Bandung ter­nyata sudah menjadi tujuan wi­sata paling favorit, ti­dak saja bagi wisatawan domestik tetapi juga turis mancanegara, terutama di kawasan Asia Tengga­ra. Nama Bandung sudah sabiwir hiji bagi warga Kuala Lumpur, Melaka, Johor Bahru, Penang, dan kota lain di Malaysia. Juga bagi warga Brunei Da­russalam.

”Tak perlu su­sah ke Ban­dung…. Pergi pa­gi, pulang malam, sudah bisa. Segala macam ada.... Murah-murah, cantik-cantik, sedap-sedap,” kata Badryiah (51), warga Johor Bahru.

Sabtu itu, Cik Badriah bersama 15 kerabatnya sibuk memilih koleksi kaus, kemeja, dan jins di Toko 3. Beberapa jam kemudian, setiap anggota rombongan itu keluar toko sambil menenteng tas plastik besar yang pe­nuh berisi aneka fashion.

Toko 3, selain Pasar Baru, factory outlet (FO) di kawas­an Jln. Riau, Jln. Dago, dan Jln. Setiabudhi, adalah magnet yang mampu menyedot wisatawan. Di kawasan-ka­wasan itu pula wisatawan banyak menghabiskan uangnya untuk berbelanja. Ya, Bandung memang surga belanja. Segala macam barang ada, mulai yang bermerek hingga produk lokal yang khas.

Makanan? Jangan ditanya. Bandung layaknya meja makan raksasa. Segala hidangan ter­sedia, mulai sambal-lalap hingga aneka salad, dari sate hingga segala jenis steak. Tempat hiburan? Juga komplet. Sejumlah wahana tersedia baik yang artifisial dan modern maupun alami. Pokoknya, mau apa pun ada di sini.

Sejak awal 2000-an, terutama setelah tol Cipularang ber­operasi, pintu ke Kota Bandung semakin terbuka lebar. Hampir setiap akhir pe­kan, terle­bih saat masa liburan, Kota Bandung dan sekitarnya jadi tujuan wisata utama. Jika selama ini ada Bali atau Yogya­karta, kini ada Bandung sebagai pilih­an untuk berwisata.

Terima kasih kepada warga yang kreatif dan inovatif. Berkat kreativitas warganya, Kota Bandung punya banyak keunikan dan kekhasan. Kota ini menjadi begitu menarik bagi yang ingin menghabiskan waktu liburannya.

                                                               **
SEKTOR pariwisata jelas mengun­tung­kan. Lalu, apa­kah kita, warga kota dan Pemerintah Kota Bandung, cu­kup puas dengan kondisi saat ini? Melihat tren positif dari perkembangan sektor pariwisata, ra­sa­nya lebar kalau po­tensi ini diantepkeun wae, berjalan sendiri, dan tidak di­kelola secara profesional yang didu­kung lembaga dan sum­ber daya dengan kompetensi tinggi.

Sebagai daerah tujuan wisata, Kota Bandung selayak­nya tampil lebih menarik, nyaman, aman, dan memberi ber­bagai kemudahan serta menyajikan lebih banyak pilihan. Tujuannya, agar wisatawan betah berlama-lama tinggal dan membelanja­kan lebih banyak uangnya di sini.

Apakah Kota Bandung sudah seperti itu? Tentu saja be­lum. Lalu, mengapa animo wisatawan untuk berkunjung ke kota ini tetap bahkan semakin tinggi? Ini yang menarik.

Bagi kebanyakan warga pituin Kota Bandung, akhir pe­kan atau masa liburan justru merupakan hari-hari yang tidak menyenangkan bahkan untuk sekadar berjalan-ja­lan. Hampir semua ruas jalan, dipadati kendaraan. Bah­kan, kemacetan sudah terjadi sejak masuk Kota Bandung. Kemacetan nyata-nyata faktor ketidaknyamanan.

Ketidaknyamanan juga dirasakan ketika kita berjalan di trotoar. Di kawasan-kawasan yang sangat diminati pelancong, misalnya, Jln. Riau, Dago, Merdeka, Cihampelas, Setiabudhi, atau kawasan Alun-alun, trotoar sudah jadi lapak pedagang kaki lima (PKL) dan parkir mobil. Di satu sisi, kehadiran PKL memang dibutuhkan, karena mereka menawarkan beragam alternatif barang yang murah dan unik. Namun, mereka pun dirasa sangat mengganggu ke­nyamanan dan tentu saja keindahan serta ketertiban.

Terima kasih warga Bandung. Tanpa pemikiran dan karya yang kreatif dan inovatifnya, Kota Bandung belum tentu bisa seperti sekarang. Tinggal sekarang bagaimana potensi yang sudah terbangun ini bersinergi dengan program peme­rintah kota yang jelas-jelas punya kewajiban dan tanggung jawab di sektor pengembangan sarana dan prasarana, produk wisata, aksesibilitas, pengembangan promosi, dan pemasaran.

Jika sinergi itu terbangun, satu saat dan mudah-mu­dahan tidak lama lagi, pariwisata bukan lagi hanya industri tetapi sudah menjadi budaya dan karakter warga Kota Bandung. Dalam pengertian sederhana, jika pariwisata sudah menjadi bagian integral dari warga Kota Bandung, situasi, kondisi, dan susananya pun otomatis akan mendukung kemajuan industri yang terbukti kebal resesi ini.

Nah, mumpung Kota Bandung masih diminati, mum­pung kreativitas warganya masih tinggi, pemerintah kota sebaiknya lebih meningkatkan kinerjanya dengan me­la­ku­kan berbagai program pengembangan yang inova­tif dan sinergi agar potensi dari sektor pariwisata ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh seluruh warga kota.

Jika hal ini terwujud, Kota Bandung bisa segera menyejajarkan diri dengan Yogyakarta bahkan Bali sebagai daerah tujuan utama. Jadi, wilujeng sumping, wilujeng shopping di Kota Bandung.***


Kata kunci:
belanjashoppingbandung

BAGIKAN

BERI KOMENTAR
Terkait