Minggu, 24 Juni 2018 | Humas.Bandung.go.id Tentang Kami ‧ Kontak Kami
Artikel
Opini

Karakter Bangsa

Senin, 22 Januari 2018

Penulis: Drs. Mu'tamar, M.Sc.

HumasBandung - Persoalan karakter bangsa kini menjadi sorotan tajam masyarakat. Sorotan itu tertuang dalam berbagai tulisan di media cetak, wawancara, dialog, dan gelar wicara di media elektronik. Selain itu, para pemuka masyarakat, ahli, serta para pengamat pendidikan dan sosial, kini juga banyak berbicara mengenai persoalan karakter bangsa di berbagai forum seminar, baik pada tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Persoalan yang muncul di masyarakat seperti korupsi, kekerasan di jalanan, kejahatan seksual, pembangkangan massal, perkelahian massa, kehidupan ekonomi yang konsumtif, kehidupan politik yang tidak produktif, dan sebagainya menjadi topik pembahasan hangat di tengah-tengah masyarakat. Berbagai alternatif penyelesaian mendapat perhatian serius dan telah diupayakan untuk mengatasinya, seperti mulai digelorakannya kembali kebudayaan daerah, penggunaan bahasa daerah pada hari tertentu di lingkungan perkantoran, menyanyikan Lagu Indonesia Raya di sekolah-sekolah saat dimulainya Jam Pelajaran pertama maupun kegiatan lainnya.

Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter masyarakat dan karakter bangsa. Oleh karena itu, pengembangan karakter bangsa hanya dapat dilakukan melalui pengembangan karakter individu seseorang. Akan tetapi, karena manusia hidup dalam ligkungan sosial dan budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang bersangkutan.

James Madison, salah satu peletak dasar konstitusi Amerika Serikat, pernah menyatakan bahwa, “the character of a nation is determined by the character of its people” atau karakter yang dimiliki suatu bangsa ditentukan oleh karakter warga bangsanya. Komponen utama dari karakter bangsa adalah tata nilai atau values yang dibangun dan ditumbuhkembangkan oleh para warga bangsanya. Oleh karena itu, keberhasilan atau kegagalan sebuah bangsa menjadi sangat tergantung pada upaya pembangunan karakter warga bangsanya. Bangsa-bangsa yang maju dan berhasil menjadi negara terkemuka, umumnya memiliki warga bangsa yang sarat dengan karakter positif, capaian pribadi yang prestisius, serta beragam capaian pribadi lainnya yang membanggakan. Karakter bangsa yang maju umumnya juga tercermin dari pola sikap warga bangsanya yang memahami sepenuhnya, bahwa kesejahteraan dan tujuan bangsa hanya dapat dicapai melalui kreativitas dan kerja keras. Pola pembangunan karakter yang baik akan mendorong terbangunnya karakter positif menuju pada kemajuan dan keunggulan bangsa.

Satu hal yang perlu diperhatikan bersama dalam pembangunan karakter bangsa, yakni apabila seorang individu anggota masyarakat menjadi asing dari nilai-nilai budaya masyarakat setempat. maka dia tidak mengenal dengan baik budaya bangsa secara menyeluruh dan dia tidak mengenal dirinya sebagai warga budaya bangsa. Dalam situasi demikian, dia sangat rentan terhadap pengaruh budaya luar dan bahkan cenderung untuk menerima budaya luar tanpa proses pertimbangan (valueing). Kecenderungan itu terjadi karena dia tidak memiliki norma dan nilai budaya nasionalnya yang dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan pertimbangan. Semakin kuat seseorang memiliki dasar pertimbangan, semakin kuat pula kecenderungan untuk tumbuh dan berkembang menjadi warga negara yang baik. Pada titik kulminasinya, norma dan nilai budaya secara kolektif pada tingkat makro akan menjadi norma dan nilai budaya bangsa. Dengan demikian, setiap warga masyarakat akan menjadi warga negara Indonesia yang memiliki wawasan, cara berpikir, cara bertindak, dan cara menyelesaikan masalah sesuai dengan norma dan nilai ciri ke-Indonesiaannya.

Keberhasilan suatu bangsa dalam membangun karakter warga bangsanya tidak cukup hanya dengan menerapkan tatanan dan peraturan hukum yang kuat di kalangan masyarakat, akan tetapi harus ditopang oleh keberadaan sistim pembangunan tata-nilai di masyarakat, yang mengedepankan nilai-nilai positif warga masyarakat. Ketidaksanggupan suatu bangsa dalam melakukan pembinaan karakter bangsa berpotensi menghadirkan beragam masalah dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa. Sejumlah kasus di mana pembangunan suatu bangsa mengalami kegagalan, berakibat terjadinya perang saudara berkepanjangan, kemiskinan dan lainnya. Pembangunan karakter bangsa berpengaruh langsung terhadap tegaknya kehidupan berbangsa, kegagalan dalam membangun karakter bangsa dapat berujung pada runtuhnya eksistensi bangsa itu sendiri. Kira-kira, bagaimana era Gen ’Y’ (Generasi ’Y’) yang telah hidup dalam tatanan nilai global dalam membawa Indonesia ke depan? Masih adakah konsep nation-state yang bisa menerjemahkan pergulatan tatanan global di masa mendatang? Akan bagaimanakan konsep pembangunan karakter bangsa ke depan?

Akhirnya, mari kita merenung bersama, bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan dua mata, dua telinga, dua tangan dan hanya dengan satu mulut itu, sejatinya bukanlah sekadar faktor estetika dari skenario penciptaan semata. Melainkan harus disikapi sebagai sebuah filosofi, bahwa kita harus lebih banyak mendengar, lebih banyak melihat, lebih banyak berkarya, dan jangan sampai lebih banyak bicara. Untuk itu tulisan singkat tentang karakter bangsa ini, mari jangan dijadikan sebagai ‘perdebatan di jalanan’, melainkan wujudkan sebagai ’manuver pengabdian’ yang berdaya dan berhasil guna dalam rangka merumuskan konsepsi pembangunan karakter bangsa di tengah pergulatan globalisasi, sehingga kita tetap mampu menjadi bangsa yang tetap memiliki jatidiri, dan bukan menjadi bangsa yang akan lenyap tergilas peradaban. Semoga!***


Kata kunci:
karakterbangsa

BAGIKAN

BERI KOMENTAR
Terkait