Senin, 24 September 2018 | Humas.Bandung.go.id Tentang Kami ‧ Kontak Kami
Artikel
Esai

Iket dan Eksistensi Sunda

Senin, 22 Januari 2018

Penulis: Ari Andriansyah

HumasBandung - Iket merupakan kekayaan budaya tutup kepala tatar Sunda. Selain iket, urang Sunda mengenal beragam tutup kepala lainnya: mahkota, tudung/cetok, dudukuy, kerepus/kopiah, peci, topi, dll. Tapi, yang masih erat dan langgeng dipakai dalam keseharian sampai sekarang –hususnya yang terdapat di masyarakat adat (Baduy, Ciptagelar, Kampung Naga, dll)– adalah iket.

Menurut Ralph L. Beals dan Harry Haijer dalam bukunya An Introduction to Antropology, tutup kepala merupakan bagian kelengkapan busana suatu kelompok, yang bahan dan modélnya sangat besar dipengaruhi oléh lingkungan dan budaya yang mempunyai fungsi praktis, éstétis, dan simbolis.

Fungsi praktis merupakan alat penutup dari panas, hujan, benda yang membahayakan, serta pembungkus barang dan makanan. Fungsi estetis sebagai aksesoris (life style). Sedangkan fungsi simbolis merupakan ciri untuk membedakan identitas dengan suku lain, serta terkandung nilai-nilai luhur kajembaran falsafah hidup.

Bukti masyarakat Sunda erat dengan tutup kepala yaitu adanya mahkota Binokasih peninggalan Kerajaan Pajajaran, yang kemudian diwariskeun kepada Kerajaan Sumedanglarang (sekarang menjadi koléksi Museum Geusan Ulun, Sumedang). Sedangkan iket terdapat pada arca megalitik di Cikapundung (sekarang daerah Kebun Binatang, Bandung), yang bentuknya menyerupai kepala memakai iket.

Dalam kehidupan masyarakat Sunda bihari/dulu, kelengkapan busana, termasuk iket, merupakan pembeda antara golongan ménak/bangsawan dan cacah/rakyat biasa. Khusus untuk iket, yang membedakannya adalah bahan, corak/motif, dan beulitan/rupa iket. Golongan ménak menggunakan bahan kain batik halus dengan motif tertentu—réréng dan gambir saketi— yang menunjukkan strata sosial tinggi (feodalis). Sedangkan golongan cacah biasanya menggunakan kain batik sisian/batik kasar dan polos hitam/iket wulung.

Falsafah dan rupa iket

Secara filosofis, iket berasal dari kata saiket/satu ikatan, artinya sauyunan dalam satu kesatuan hidup. Ibarat lidi, jika sehelai tidak mempunyai fungsi, tapi jika dibentuk menjadi satu ikatan sapu, maka akan mampu membersihkan apapun. Begitu pula manusia berlaku individual, tentu berat menghadapi suatu masalah. Lain ceritanya jika dilakukan bersama. Iket juga menandakan agar pemakainya tidak ingkah (lepas) dari jati diri Kasundaan.

Kepala merupakan subjek yang diikatnya, dan persoalan yang datang dari luar dan dalam dirinya merupakan objek yang harus dihadapi. Agar hidup senantiasa caringcing pageuh kancing, saringset pageuh iket (siap menghadapi segala kondisi dan situasi).

Bagi urang Sunda, penghargaan terhadap kepala begitu luhur karena fungsinya sangat vital bagi kehidupan. Kata pamali merupakan larangan keras jika seseorang memukul atau menepuk kepala orang lain sekalipun. Hal tersebut bisa ditemukan dalam berbagai istilah keseharian; huluwotan (mata air), hulubalang (pengawal raja), panghulu (penghulu), sampai digunakannya dalam peribahasa; gedé hulu (sombong), asa dicabak hulu (merasa dipermainkan), teu puguh hulu buntutna (tidak jelas urusannya), nepi ka nyanghulu ngalér (sampai mati), dsb.

Motif dalam iket dibagi menjadi empat bagian, yaitu pager, modang, waruga, dan juru. Pager adalah motif yang ada di sekeliling iket. Modang, bentuk kotak pada bagian tengah iket. Waruga, bagian tengah iket yang polos. Serta juru merupakan motif yang ada di setiap sudut iket. Sedangkan bentuk iket ada dua bagian, yaitu persegi dan segitiga. Sebernarnya semua bentuk iket persegi, menjadi segitiga karena dilipat atau dipotong dari bentuk asli untuk mempermudah pemakaian.

Dua bentuk ini mempunyai falsafah hidup. Bentuk persegi menunjukkan hidup masagi/sempurna dalam arti pemikiran, dengan siloka opat kalima pancer atau opat pancer kalima diri urang. Pancer menunjukkan empat madhab/arah (utara, selatan, timur, barat) dan bahan yang menjadi dasar kehidupam (tanah, air, angin, api).

Bentuk persegi juga terdapat di tengah motif/modang, yang selalu berlawanan dengan bentuk iket (diagonal), untuk membedakan dengan kain lain yang sejenis. Jika iket dilipat jadi segitiga, bentuk modang ini akan lurus (horizontal). Hal ini menunjukkan kapancegan/konsistensi pandangan hidup. Dan bentuk segitiga sendiri adalah kesamaan konsep tritangtu (ratu, rama, resi) yang harus dimaknai secara luas.

Rupa iket awalnya hanya dikenal tujuh bentuk pemakaian. Tapi, seiring dengan kreatifitas masyarakatnya, rupa iket semakin bervariasi, antaranya barangbang semplak, parékos/paros (parékos/paros nangka, jéngkol, gedang), koncér/paitén, julang ngapak, lohén, ki parana, udeng, pa tua, kolé nyangsang, porténg, dll.

Dari rupa iket dapat menunjukkan golongan, seperti rupa iket barangbang semplak (di Cirebon disebut iket mantokan urung ceplakan) biasa dipakai oleh jawara, kuda ngencar untuk remaja, parékos/poros (di Cirebon disebut iket duk liwet) dipakai kaum tua untuk kegiatan ritual, porténg dipakai untuk kegiatan sehari-hari dalam bekerja, dan udeng dipakai golongan ménak.

Bukan sekadar gaya

Iket merupakan warisan budaya yang luhur nilainya, harus kukuh dipegang sebagai wujud simbolis keutuhan hidup. Begitu juga bagi urang Sunda sendiri, apakah hanya membanggakan luarnya saja sebagai bentuk identitas, atau lebih mementingkan isinya. Menurut Dr. Ir. Thomas NIX, peneliti dari Belanda (Stedebouw in Indonesia Rotterdam, 1949), leluhur masyarakat Indonesia, hususnya Pulau Jawa, sudah mewariskan kearifan lokal dalam segala unsur kehidupan.

Nu lima diopatkeun, nu opat ditilukeun, nu tilu diduakeun, nu dua dihijikeun, nu hiji jadi kasép (yang lima dijadikan empat, yang empat dijadikan tiga, yang tiga dijadikan dua, yang dua dijadikan satu, yang satu jadi tampan), kalimat yang diucapkan budayawan Jakob Sumarjo ini, tentunya harus direnungi bagi setiap pemakainya. Bukan sekadar gaya, tapi harus dipahami makna di balik lipatannya. Ketika dari lima menjadi satu, maka individu berusaha mendekatkan diri dengan Tuhan yang satu.

Melihat fenomena yang muncul kini, iket semakin tren di kalangan anak muda. Dengan berbagai motif dan gaya pemakaian. Bisa jadi dilatarbelakangi oleh kerinduan terhadap nilai tradisional yang semakin tergerus oleh modernisasi. Atau hanya sekadar pencitraan identitas tanpa pemaknaan.

Meskipun demikian, harus jadi kebanggaan bersama dengan diarahkan pertanggungjawabannya. Bahwa mengenal dan memaknai kembali kebudayaan Sunda tidak harus secara paksa. Tapi, diawali dengan kesadaran kecintaan melalui iket. Dengan cara itu, iket tidak akan kalah dengan ikat kepala/syal bergambar grup musik barat.***



BAGIKAN

BERI KOMENTAR
Terkait